-->

Beringin Wok dan Jenggot Di Alun-Alun Jogja: Antara Asmara dan Agama



Meski hanya beberapa kali keYogyakarta, saya selalu merindukan suasananya. Seperti rumah dan kampung halaman, berbagai perasaan bercampur aduk ketika mengingat-ingat daerah istiwewa tersebut. Tentu yang paling berkesan (bagi saya) adalah kesadaran masyarakat disana terhadap budayanya, warisan yang ditinggalkan nenek moyang mereka. Berbagai benda, bangunan, hingga kepercayaan masih bertahan dan terawat dengan sangat apik. Bahkan, beberapa telah terdaftar sebagai warisan dunia di UNESCO. 

Bertahannya warisan budaya di Yogyakarta (Jogja's Legacy) ini memang tidak bisa dilepaskan dari peran sentral kraton Yogyakarta. Jika kalian sedikit menelisik, rupanya bangunan kraton Yogyakarta dikelilingi oleh sejumlah pohon beringin. Tanaman ini bagi saya semacam ikon yang membedakannya dengan kraton lainnya. Karena letaknya yang berada di depan dan dibelakang kraton Jogja. Mungkin kalian sudah tahu dengan keberadaan pohon ini. Namanya sudah melegenda di pariwisatawan, kiai Dewadaru, kiai Janadaru, dan Supit Urang. Pohon kembar (ringin kurung) yang menghiasi alun-alun selatan (kidul) dan utara (lor). 4 pohon ini sering kali disandingkan dengan mitos asmara. Konon jika seseorang melewatinya bersama sang kekasih dengan mata tertutup maka hubungannya akan langgeng-sentosa. Ada lagi yang mengatakan hanya orang berhati bersih yang bisa melewatinya dengan mata tertutup.

Beberapa pemuda Indonesia juga telah turut menjaga warisan budaya Jogja ini. Diantara yang paling menarik adalah apa yang dilakukan pemuda-pemuda Craftown yang memasukkan warisan Jogja didalam produk-produknya.



masyarakat Yogyakarta biasa menyebutnya dengan masangin, yang berarti melewati jalan diantara 2 pohon beringin. 

Tapi ikon kraton Yogyakarta bukan  sekedar kisah asmara diantara beringin kembar tersebut. masih  ada lagi yang tidak banyak diketahui wisatawan. salah satunya makna filosofis pohon beringin yang mengelilingi alun-alun tersebut. pohon bernama Kiai wok (brewok) dan Kiai jenggot, pohon Agung, dan Binantur. 2 pohon pertama terletak di jalan Pangurakan dan sisanya terletak di depan bangsal Pagelaran.

"Orang Jawa itu kaya dengan simbol dan filosofi. Selalu ada makna di setiap perbuatan." ~ KRT Jatiningrat (Sejarawan)

Beringin kiai Wok dan kiai Jenggot

Dua pohon ini sebenarnya masih diperselisihkan mengenai namanya. Sebab Serat Salokaparta yang telah ditulis pada abad 20 menyebut keduanya dengan kiai Godheg dan kiai Simbarjaja. Dalam peta tahun 1929 dua pohon itu diberi nama kiai Brewok dan kiai Godheg. Dua beringin ini terletak di jalan Pangurakan. Jalan yang bertolak dari titik nol menuju kraton Jogja ini memiliki arti pelepasan. Sesuai dengan namanya, Pangurakan adalah simbol dari melepaskan setiap sifat-sifat kemanusiaan dan "berhias" dengan sifat-sifat ketuhanan.



Jika diurut berdasarkan rute dari tugu ke kraton maka Pangurakan adalah jalan terakhir setelah Margoutomo, Malioboro, dan Margomulyo. keempat jalan ini saling terhubung dalam simbol dan falsafah kraton Jogja. Jalan Margoutomo berarti jalan utama, Malioboro bermakna obor wali, Margomulyo bermakna jalan kemuliaan. Maka Jalan Pangurakan adalah fase terakhir dari suluk setiap orang agar bersatu dengan sang ESA.

Para pakar dan budayawan banyak yang menyakini bahwa simbol, nama dan arsitektur di keraton Jogja berhubungan erat dengan konsep Manunggaling kaula gusti ("Bersatunya" manusia dengan Tuhan).

Lalu bagaimana dengan 2 beringin tersebut? Awalnya saya tidak menemukan cerita mengenai 2 beringin tersebut. Tapi kemudian saya menemukana bahwa nama beringin di keraton Jogja hampir sama dengan keraton Surakarta. Namanya sama persis, beringin kiai wok dan kiai jenggot. Akankah sebuah kebetulan? saya rasa tidak. Sebab, hubungan antara keraton Jogja dan Surakarta sangat erat sejak zaman dahulu. Menurut cerita rakyat Surakarta, pohon beringin kiai wok dan kiai jenggot adalah simbol dari penciptaan laki-laki dan perempuan. Secara lebih dalam, kiai wok dan jenggot adalah simbol dari kesuburan. Karena asal dari setiap kehidupan bermula dari laki-laki dan perempuan. Hal ini juga sangat erat dengan mitologi beringin bagi orang Jawa. Yakni beringin bagi masyarakat Jawa dikenal dengan pohon hayat (kehidupan). Apakah beringin kiai wok dan jenggot di keraton Jogja memiliki makna filosofis yang sama?, bisa benar, bisa salah.



Ada juga yang menafsirkannya dengan kebaikan dan kejahatan. Sebab bagi masyarakat Jawa jenggot adalah simbol dari ketidak baikan (jahat) dan jenggot adalah simbol dari kebijaksanaan (kebaikan). Sehingga jika dihubungkan dengan Pangurakan yang bermakna pelepasan, maka beringin wok dan jenggot adalah melepaskan sifat-sifat baik dan buruk dari manusia. Bahwa kebaikan dan kejahatan adalah dari sang ESA untuk menguji hamba-hambanya. Seseorang yang telah melepaskan sifat-sifat hayawaninya akan menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar nyata kecuali Tuhan Sang Maha Ada. Dengan begitu orang yang memasuki kraton dengan cara   melewati beringin wok dan jenggot secara filosofis digambarkan sebagai orang yang melepas sifat-sifat hayawani, baik sifat baik dan buruknya, dan kemudian "menyatu" dengan Sang Pencipta.

Click to comment