-->

Berkontemplasi Gara-Gara Lagu "Ibu" Dari Jasmine Elektrik



Malam Kamis, tanggal 30 Januari 2019. Malam itu seperti malam-malam biasanya. Ada angin, suara jangkrik sekaligus ada dengkuran seorang sahabat. Malam itu jarum jam telah menunjuk angka 11, Suasanya kelam seperti pekatnya kopi yang sedang kuseruput. Malam itu, aku tertegun karena sebuah lagu yang dibawakan band indie dari Yogyakarta. Tertegun karena liriknya mengantarkanku pada sosok seorang pahlawan, ibu. Tak terasa, bayangan masa lalu pun menghampiri. Mengingat kembali detik demi detik perjuangannya. Aku tiba-tiba berkontemplasi.

Jasmine Elektrik adalah band independen asal Yogyakarta yang baru-baru ini meluncurkan lagu terbarunya berjudul IBU.

Ibuku tak ubahnya ibu kebanyakan orang. Ibu yang aktifitasnya memasak, mencuci pakaian, dan sesekali menonton tivi ketika senggang. Jika subuh datang, beliau selalu diantarkan ayah ke masjid Agung Sumenep. solat dan mengaji bersama teman-temannya. Selebihnya, beliau adalah wanita luar biasa. Wanita yang tanpa lelah menunggu kesuksesan anak-anaknya. Usianya yang sudah menginjak 60 tahun mulai mengoleksi beberapa kerutan. Meskipun begitu, wajahnya masih menyisakan kecantikan khas kota dingin Malang. Aku tahu ibuku cantik dimasanya.
Kau ajari ku Berjalan
Membimbingku perlahan
Hingga tercapai segala yang kucita-citakan

Pepatah arab mengatakan: "Al-Um Madrasah al-Ula" (Ibu adalah madrasah pertama bagi anak). Begitu juga, ibuku ibarat kampus. Bukan kampus biasa, tapi lebih mentereng. Pendidikan yang beliau ajarkan lebih dari materi yang dipaparkan seorang doktor, bahkan tidak kalah dari sekelas profesor. Karena beliau mengajarkan apa yang tidak diajarkan mereka, warna kehidupan. Nilai-nilai kehidupan yang beliau contohkan dan ucapkan kepadaku. Dari caraku bertutur kata sampai bagaimana aku berdoa. Dalam pendidikannya juga ada tangis, ada marah, dan panjatan doa. Semua yang beliau lalui yang telah membuat aku menjadi sekarang ini. Hal pertama yang aku ingat dari pesan beliau: "Nak, jadi orang itu jangan tanggung, Jadilah orang baik atau orang buruk! jangan setengah-setengah". Oleh karena itu, sedari kecil ibu sangat ketat mendidikku. Terlebih jika urusan salat. Aku tahu ini adalah caranya agar aku tidak jadi orang setengah-setengah. Terlebih jika urusan solat. Beliau paling menekankan tahajud dan dluha. Meski hanya lewat telepon.


Selama ku dibesarkan
Selama ku dipelukan
Begitu banyak dosa yang telah aku lakukan
Entah, berapa kali aku menyakiti perasaannya. Tak terhitung, juga tak terukur. Seperti kasih sayangnya padaku. Pernah suatu ketika, aku membuatnya marah besar. Sebab aku mengambil uang tanpa izin darinya. Selanjutnya, beliau mengajakku berbincang-bincang diatas kasur. "Yik, sini, ummi mau bicara sebentar". Rupanya dia ingin menanyakan uang yang tadi kucuri di laci meja. Aku menghampirinya, ketika itu luapan marahnya sudah tidak membekas lagi di wajahnya. Meski aku paham dosaku masih tersemat di lubuk hatinya. Beliau lagi-lagi berpesan: "Nak, Jangan jadi orang tanggung!". Lagi-lagi, 5 kata itu yang keluar. Aku tahu beliau tidak mengucapkan itu agar aku bertindak lebih jahat lagi. Toh, tidak ada ibu yang menginginkan anaknya menjadi pencuri. 
Buat ibu terluka
Buat ibu kecewa
Mohon ku diingatkan
Mohon ku dimaafkan
Mungkin tidak ada anak yang tidak pernah melukai hati ibunya. Sama sepertiku, yang sering kali membuatnya kecewa. Meski begitu, harapannya padaku tidak pernah terputus. Setiap kali ibu marah, yang pertama kali beliau lakukan adalah mengajakku berbicara. Menanyakan alasanku dan sebab-musabbabnya. Seterusnya beliau akan berkata: "Nak, jangan jadi orang tanggung!". Begitulah, ibuku mungkin tidak ingin anaknya menjadi orang biasa. Dia menginginkanku menjadi orang luar biasa. Sebab itu, dia kemudian memasukkanku ke pesantren setelah lulus SD sampai hari. Impian Ibu adalah bagaimana aku bisa ilmu agama kepadanya. Tak jarang, petuah-petuah ulama sering beliau sisipkan ketika berbicara denganku. Sebut saja misalnya, K.H Bakhiet, K.H Maemon Zubair, Buya Yahya, Gus Mus dan lain sebagainya. Sepertinya beliau menginginkanku berwawasan seperti mereka. Meski sampai hari ini, aku tak juga dapat mewujudkan mimpinya.   
Ku kayuh perahu
Menuju pulau citaku
Diiringi doa nasehat bijakmu ibu
Ku arungi hidup berbekal ilmu darimu
Kasih sayangmu ibu
Tak terbantahkan waktu
Hari ini umurku telah menginjak 26 tahun. Tak terasa aku telah menghabiskan 11 tahun dari masa usiaku di pesantren. Menjadi anak perantauan sedari kecil kadang membuatku rindu pada rupa-wajahnya, pada masakannya, pada obrolannya. Meski begitu, ada rasa malu jika aku kembali ke rumah tahun ini. Belum bisa mewujudkan cita-citanya. Menjadi orang yang tak setengah-setengah. Oleh karena itu, hingga hari ini aku terus memperjuangkan impian ibu. Berusaha menjadi orang yang pantas mengajarkannya ilmu agama. Aku pikir, menjadi ahli agama juga termasuk salah satu kriteria beliau, "orang yang tak setengah-setengah". 

Malam itu aku tutup kontemplasiku dengan menyeruput kopi terakhir.





Click to comment