-->

Cara Mensiasati Pendampingan Orang Tua pada Anak remaja yang Berada di Pesantren



Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua dan diakui oleh pemerintah telah sejak lama memberi sumbangsih besar pada kemajuan negara Indonesia. Ini bisa dibuktikan dengan lahirnya para pejuang, tokoh masyarakat, pemimpin, politikus, dan guru besar dari kalangan pesantren. Misalnya presiden keempat kita yaitu KH. Abdur Rahman Wahid yang berasal dari pesantren Tebu ireng Jombang.

            Sejak sebelum kemerdekaan hingga kini, pesantren selalu berkembang dan  menyesuaikan dengan tuntutan zamannya. Perkembangan dan perubahan ini tidak lain karena tantangan yang dihadapi pesantren juga berbeda, bahkan terus bertambah. Proses globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan inforrmasi pada era sekarang menjadi  tantangan terbesar yang pernah dihadapi pondok pesantren. Dimana salah satu dampak dari globalisasi adalah perubahan yang signifikan pada sistem budaya, etika dan moral rakyat Indonesia. Sehingga pesantren sebagai lembaga pendidikan perlu kiranya mendapatkan bantuan  dari masyarakat. Terlebih lagi para santri pada umumnya adalah siswa tamatan SD atau menginjak SMP/ Stanawiyah. Pada masa ini santri-santri baru mengalami peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Dimana hal ini ditandai dengan  perubahan fisik,  emosional, sensitif, dan sosialnya.


Sehingga peran orang dewasa sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangannya. Meskipun pesantren memiliki “mas’ul” (pengurus) yang ditugaskan mengurusi para santri, baik dari kegiatan didalam pesantren maupun sekolah, tidak jarang sebagian santri luput dari pengawasan asatidz (guru/ pengurus). Sehingga sebagian santri tanpa disadari terjerumus pada lingkungan/ teman yang “beleng” (nakal). Bahkan tidak jarang santri tersebut melakukan pelanggaran di pesantren. Oleh karena itu peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk mendampingi anaknya di pesantren (lihat juga 4 strategi orangtua kuatkan komunikasi dengan remaja). Sayangnya peran orang tua sedikit terkendala untuk mendampingi anaknya di pesantren. Hal ini dikarenakan jarak antara pesantren dan rumah jauh, bahkan bisa berbeda provinsi. Lalu bagaimana cara yang tepat untuk mensiasati hal  tersebut?

Penulis sebagai salah satu orang yang pernah mengalami pendidikan di pesantren ingin sedikit berbagi pengalaman mengenai interaksi orang tua dan santri ketika di pesantren. Tentu rujukan dipakai adalah pengalaman pribadi atau sahabat-sahabat yang dulunya pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Pengalaman yang akan dibagikan adalah pengalaman yang menurut penulis sendiri positif dan bisa dijadikan contoh untuk  mengawasi anak-anak santri oleh orang tuanya pada masa kini.

Pertama,  Jika tiap-tiap pesantren pada umumnya memiliki jadwal kegiatan yang cukup padat, sehingga para santri lebih banyak disibukkan dengan kegiatan semisal salat berjamaah tiap waktu, madrasah, sekolah formal, pengajian kitab dan lainnya. Maka orang tua perlu mengetahui dan pintar mencari waktu yang tepat agar selalu bisa mengunjungi anaknya. Biasanya waktu istirahat bagi para santri adalah siang hari sampai sore. Akan tetapi jika pesantren yang dimukimi oleh anaknya berada jauh diluar kota atau provinsi, maka gunakanlah telpon agar tetap berhubungan dengan anaknya. Biasanya pihak pesantren telah menyiapkan telpon rumah/ handphone disetiap asrama santri. Orang tua bisa mendapatkan nomer telpon asrama sewaktu mengunjungi anaknya di kantor sekretariat atau dengan mencari di website resmi yang dikelola pengurus pesantren.

Gunakanlah sarana-sarana komunikasi tersebut dengan maksimal. Karena terkadang anak santri memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan atau perlu bantuan orang dewasa. Terlebih santri laki-laki biasanya sering menyimpan masalah tersebut  dari pengurus asrama/ ustadz. Bahkan malah diselesaikan sendiri bersama teman-teman sebayanya. Sedangkan santriwati,umumnya mereka lebih aktif berkonsultasi dengan asatidz daripada santri pria. Tetapi orang tua juga perlu terlibat, karena biasanya mereka hanya perlu orang yang mau mendengarkan masalahnya. Meskipun itu adalah masalah sepele semisal kehilangan baju, cucian belum kering dan lainnya.

Kedua, sewaktu orang tua menjenguk anaknya, mintalah kepada mereka untuk mengajak teman-temannya, ketua kamar/asrama atau gurunya dikelas. Ajak mereka untuk makan bersama di ruangan pertemuan. Kemudian ajaklah mereka mengobrol seputar hal-hal di pesantren, madrasah maupun asrama. Dengan cara ini para orang tua dapat mengetahui orang-orang didekat putra/I nya dengan lebih baik. Dengan begitu para orang tua dapat mengawasi atau mengontrol  anaknya dengan lebih leluasa. Misalnya jika si anak memiliki masalah yang disembunyikan maka orang tua dapat menghubungi sahabat karibnya, atau orang tua dapat bertanya kepada ustadz perihal keaktifannya di madrasah/sekolah.

Ketiga, sering-seringlah orang tua mengajak berdiskusi dengan anaknya. Misalnya tentang pelajarannya di sekolah/madrasah dan problematika yang terjadi di masyarakat rumahnya. Hal ini bagi penulis dapat mendorong anak untuk memecahkan masalah atau ikut berusaha menjawabnya. Jika anak ternyata belum bisa menjawab atau kurang menguasai pelajarannya maka orang tua bisa meyuruh anaknya bertanya kepada ustadznya, dan menangguhkan pertanyaannya agar dijawab pada waktu selanjutnya. Dengan begitu anak akan berusaha mencari jawaban dari permasalahan tersebut.

Keempat, biasakan untuk sowan ke kiai setelah/ sebelum mengunjungi anaknya. Karena kiai sebagai sentral dari seluruh aktivitas di pesantren lebih memahami masalah-masalah urgen dikalangan santri. Para orang tua juga bisa mengajak anaknya sewaktu sowan, dengan begitu orang tua dapat mengajari mereka untuk menghormati dan mencintai kiai dan ulama. Selain itu orang tua juga bisa untuk meminta doa untuk kemaslahatan anak dan keluarganya. Karena kiai sebagai sosok yang dianggap lebih paham  mengenai agama adalah pewaris Rasulullah Saw. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Tirmidzi dari Abu Darda’ RA). Selain itu membawa anaknya ketika sowan juga adalah tradisi pesantren khas nusantra yang telah berjalan sejak lama di Indonesia.

#sahabatkeluarga #sahabatkeluarga

Referensi
Imam Syafe’i, Pondok Pesantren: Lembaga Pendidikan Pembentukan Karakter, dalam jurnal Al-Tadzkiyah, (malang: IAIN Raden Intan Lampung. Vol.8, mei 2017)
Muhammad bin Isa Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, (Saudi: Dar Hadlarah, 2018), hadist nomer 2682 dalam bab Ilmu.

Click to comment