-->

Review buku Buya Hamka “Tasawwuf Modern”


Buku ini akan terkesan aneh jika pembaca belum mengenal riwayat hidup sipenulis. tidak biasa, unik, indah dan berkelas adalah pujian yang mungkin pembaca berikan jika telah membacanya. Tidak saja sarat dengan keilmuan dan pengalaman, buku ini juga terangkai dengan dialek-dialek sastra khas melayu. Lebih tepatnya pembaca akan merasa sedang membaca karya sastra melayu klasik, bukannya buku tasawwuf. Mungkin akan tampak berbeda jika penulisnya bukan sang maestro sastra melayu, Dr. Haji Abdul Malil Karim Amrullah atau yang biasa dikenal dengan panggilan Buya Hamka. Cermatilah salah satu kalimat dalam buku ini: demikianlah adanya hidup ini. Hidup adalah peperangan yang hebat, lagi kejam dan sakit. Diantara sepihak bala tentara yang bernama diri dengan sepihak lagi yang bala tentara yang bernama nasib.

          Meskipun judul buku ini adalah Tasawwuf Modern, didalamnya lebih menfokuskan pada arti kebahagian dan pelantara-pelantara yang menyebabkan bahagia. Didalam kata pengantarnya, sipenulis mengakui bahwa tulisannya lebih menekankan tentang arti bahagia. Akan tetapi perlu juga diketahui bahwa buku ini adalah kumpulan artikel sipenulis yang diterbitkan di salah satu rubrik majalah Pedoman Masyarakat. Rubrik itu sendiri bernama Tasawwuf Modern. Konon, tulisan beliau selalu ditunggu-tunggu oleh pembaca-pembaca di nusantara. Maka tidak heran jika nama rubrik tersebut lebih dikenal dikalangan pembaca daripada judul tulisannya.

          Bab pertama buku ini dimulai dengan menyebutkan pendapat-pendapat para ahli tentang arti bahagia. Selain itu sipenulis juga mengkritisi satu-persatu dari pendapat-pendapat mereka. Tidak sedikit beliau menyalahkan para ahli, baik dari kalangan filsuf yunani, filsuf islam dan ahli sufi. Diantaranya, beliau tidak setuju jika tasawwuf hanya diartikan sebagai beruzlah dan menjauhi kehidupan sosialnya. Begitu juga, menurut beliau bertasawwuf bukan berarti menghindari bekerja dan mencari harta. Bertasawwuf telah ada sejak jaman Nabi kita, Muhammad SAW. Baginda Rasul dan para sahabatnya tidak pernah  menyuruh kita untuk meninggalkan keduniawian. Akan tetapi,  menyuruh kita agar tidak sampai terlena oleh dunia. Inilah yang dinamakan bertasawuf secara modern.

`        Selain itu, Buya Hamka juga mengkritik para atheis dan pengikut feminisme. Beliau berpendapat kebahagian sebuah bangsa tidak akan terwujud jika masyarakat telah meninggalkan agama dan para wanita meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu. Undang-undang adalah aturan manusia untuk menahan manusia melakukan pekerjaan buruk, sedangkan Agama adalah rambu-rambu yang mengatur kehidupan manusia secara individu, yang tidak bisa diatur oleh undang-undang negara.


          Didalam buku ini, Dr. Haji Abdul Malik Karim banyak mengutip pendapat dan konsep tasawuf Imam Ghazali dan Jamaluddin al-Afghoni. Sering sekali beliau memberi komentar kalam-kalam hikmah kedua ahli sufi tersebut.  Dibeberapa akhir bab dalam buku ini, Buya hamka juga menulis beberapa pantun melayu. Sedangkan untuk bab terakhir beliau isi dengan doa-doa dan isi curhatan sipenulis kepada Tuhan semesta alam, Allah.

Click to comment