-->

Sebuah "Hidayah" Menjadi Seorang Blogger



Sunyi dan bunyi. Diiringi angin kencang yang berhembus dari utara. Kala itu hujan tengah mengguyur bumi Ponorogo dengan membabi buta. Seakan mengabarkan bahwa alam ini masih bernyawa seperti biasanya. Kemudian, kesunyian ini tiba-tiba berakhir dengan dilantunkannya suara iqamah dari toa masjid kampus. Menandakan bahwa aktifitas kampus Darussalam Gontor masih bergejolak seperti biasanya. Ditengah-tengah kejadian alam itu seorang pria sedang menatap layar laptopnya dengan sangat khusyuk.

Cerita diatas bukanlah awal perkenalanku dengan blog. Itu hanyalah cerita ketika aku menulis di blog hari ini.  

Awal aku mengenal blog memang biasa saja. Tidak ada insiden yang dramatis, apa lagi menyimpan misteri. Bermula dari kekhawatiran akan nasib tulisan-tulisanku yang "berserakan". Entah itu dilaptop, kertas, buku tulis, flash disk, atau bahkan di salah satu folder yang disimpan di laptop milik sahabat. Oh ya maaf, pengertian kalimat "tulisan-tulisanku" disini bukanlah seperti yang kalian pikirkan. Bukan sejenis opini, cerita traveling, makanan, tips dan trik yang biasanya diposting oleh para blogger dan jurnalis. Hanya beberapa tugas kuliah biasa. Itupun tak terlalu menarik untuk disebut biasa. Maklum kala itu aku memang masih belum terbiasa menulis. Alias terpaksa dan dipaksa menulis. Karena hanya dengan menulis (tugas kuliah) aku bisa "terbebas" dari amukan nilai D dari dosen.

Kekhawatiran itu sampai pada puncaknya di musim penghujan. Persisnya di bulan November tahun 2017. Ketika aku terinsprirasi dengan blog milik adik kandungku, Ayis. Dia memang sudah sejak lama memiliki blog. Sewaktu aku lihat blog miliknya aku terkagum. Dia rupanya sangat pandai mempercantik blognya. Cukup keren. Tampilan templatenya tidak kalah dengan website-website besar. Meskipun dia dapatkan secara gratis di internet. Dari situ aku juga baru tahu, bahwa blog ternyata  bisa dipermak dengan sangat apik. Hanya bermodalkan internet, skill coding, dan imajinasi blogger. Terkesan dengan blog miliknya akhirnya aku putuskan untuk memiliki blog yang sama seperti dia. Sekalian juga untuk menyimpan tugas-tugas kuliah. Setidaknya agar "mereka" abadi di dunia maya.

Blogger Setengah Hati

Memiliki blog tak membuatku menjadi aktif menulis. Tidak juga giat menyimpan semua tugas kuliahku. Seperti hari-hari biasanya, aku cukup mengerjakan tugas, selesai dan kirim ke email dosen. Selesai. Menyimpannya di blog pribadi malah cukup merepotkan. Ups, aku memang anak yang agak benci dengan kesibukan. Menyibukkan diri bagiku karena orang-orang mulai bosan dengan ketenangan. Sedangkan aku malah merasa nyaman dengan ketenangan. Apalagi jika kesunyian ikut mengahampiri. Akhirnya, jika ditelisik seluruh aktivitasku kalau tidak di kampus ya di asrama. Di kampus aku mengikuti kuliah, presentasi, dan sesekali makan di kantin. Sedangkan di asrama pekerjaanku menonton film, main PES, dan game online. Blog milikku menjadi usang, tidak terawat atau bisa dibilang mati suri.



Situasi ini berlanjut sampai kuliahku memasuki tahun berikutnya. Awal semester 5. Waktu itu, aku sedang berbaring sambil memainkan hape. Membuka instagram lebih tepatnya. Tidak sengaja aku menemukan informasi lomba blog yang diadakan kemendikbud. Tiba-tiba aku teringat dengan nasib blog yang aku buat. Bagaimana nasibnya sekarang?. Apakah ia masih "bernyawa"?. Tidak, tidak, maksudku apakah ia masih aktif?, ataukah sudah diblokir oleh google? (pikirku kala itu). Karena rasa penasaran, aku mencoba membukanya lewat laptop. Duar, ternyata ia masih aktif. Aku tersenyum. Saking herannya aku habiskan beberapa menit membaca semua tulisanku disitu. Takut-takut ada yang hilang karena ditinggal pergi. Sejurus kemudian sesuatu hinggap di isi kepala. Bukan mukjizat bukan pula ilham. Hanya sebuah bisikan hati untuk mengikuti lomba blog itu. Entah mengapa pada waktu ada ide yang tidak biasa dan aku putuskan mengikutinya.

Awal Perubahan

Pertemuan kedua adalah pertemuan yang PHP. Karena setelah itu aku tetap tidak berubah. Tidak juga menyimpan tulisan-tulisanku disana. Apalagi mencoba-coba menulis. Kecuali ketika lomba kemendibud yang dulu. Hari demi hari, malam berganti malam sampai bulan berikutnya menyapa. Teringat dengan lomba yang aku ikuti. Lalu dihinggapi rasa Penasaran, aku putuskan mencari tahu siapa pemenangnya. Meski aku  tidak yakin salah satunya bernama Mohammad Auliyaur Rosyid. Ternyata fakta mengatakan sebaliknya. Aku terpilih sebagai salah satu dari 32 nominator. Namaku tercantum di pemberitahuan. Horass!

Tapi tunggu dulu, rasa "bangga" ini tidak bertahan lama. Karena ia kandas ditengah jalan. Rupanya, 31 nomine yang disebut bersamaku adalah kesatria dalam dunia tulis-menulis. Mereka sangat profesional. Sedangkan aku amatiran. Menggeluti dunia blog juga bukan sebulan-dua bulan. Bertahun-tahun. Ibaratnya aku seperti anak SD yang baru belajar membaca dan mereka telah membaca berpuluh-puluh kitab filsafat. Tapi sudahlah, menjadi nomine juga adalah sebuah prestasi. Menjadi pemenang lomba masih terlalu jauh dari jangkauan. Yang terpenting aku bisa jalan-jalan ke Jakarta dengan uang dari kemendikbud. Menghadiri acara apresiasi keluarga sekaligus pengumuman pemenang disana.

Tiba di Jakarta untuk pertama kalinya. Bahkan pertama kalinya menaiki pesawat menyusuri angkasa. Sungguh adalah sebuah keberuntungan yang hakiki.

Singkat cerita, aku berada di Jakarta selama dua hari tiga malam. Banyak wawasan yang aku dapatkan disana. Bertemu para jurnalis yang mengikuti lomba berita dan feature, para guru dan dosen yang mengikuti lomba opini, sekaligus 31 blogger-blogger expert dari seluruh Indonesia. Belum lagi dengan para presentator handal yang mengulas dunia literasi dan pendidikan keluarga. Dari semua itu yang paling menggembirakan adalah tulisanku terpilih sebagai juara harapan. Mengherankan bukan?. Seorang blogger pemula berhasil menyisihkan nomine lain yang umumnya lebih mahir dariku. Apalagi ini adalah lomba pertama yang aku ikuti.

Langkah Baru

Menjadi seorang juarawan dalam lomba blog adalah langkah baru dalam hidup. Cita-cita baru tiba-tiba muncul. Menjadi jurnalis atau paling tidak seorang penulis buku. Dulu aku menganggapnya itu mustahil. Bukan karena tidak mampu. Tapi lebih karena tidak mau. Menjalani hidup dengan berjam-jam didepan laptop/komputer dan dengan kesepuluh jari yang meraba-raba keyword bukanlah bagian dari gayaku. Membosankan dan sangat menjengkelkan. Sudah cukup aku menyentuhnya karena titah dari sang dosen. Selebihnya biarkan ia jadi bioskop kecilku.


Tapi semua telah berubah, ada langkah baru yang ingin aku buat. Sebuah langkah perubahan untuk menjadi seorang penulis. Terinspirasi oleh para nomine yang aku kenal di Jakarta. Seperti ibu Ina Tanaya, mas Bagus Sajiwo, ibu Rieka dan semuanya. Mereka semua adalah inspirasiku untuk terus berkarya dalam tulisan. Ibu Tanaya sendiri adalah wanita berumur sekitar 60 tahun. Telah lama menggeluti dunia blog. Prestasi dan penghargaannya pun telah banyak yang ia peroleh. Sedangkan mas Bagus, ia adalah jurnalis di media Radar Jember. Belum lama ini ia bisa melancong ke Praha, gara-gara tulisannya. Seperti kata seorang sahabat: Modal kata-kata jalan kemana-kemana!.

Menjadi Blogger Profesional

Menapaki dunia tulis-menulis ternyata masih susah bagiku. Aku tidak tahu akan memulainya darimana. Akhirnya mencari tahu kesana-kemari adalah langkah awal yang aku lakukan. Pertama kali, aku mencari tahu bagaimana para nomine itu bisa menulis bukunya. Beruntung aku temukan caranya di blog milik pak Lutvi Avianto. Peraih juara I dalam lomba blog kemendikbud. Rupanya dia menciptakan buku dari menghimpun tulisan di blog miliknya. Mungkin bapak ini terinspirasi dari kata pepatah: Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Aku pikir ini cukup efisien. Hanya dengan aktif ngeblog bimsalabim jadilah buku.


Aku putuskan menjadi blogger. Tidak tanggung-tanggung, impianku harus seperti Raditya Dika. Komika yang memulai karirnya dari blog. Ini sekaligus menjadi tantangan. Bisakah aku senasib dengan Radit?. Aku perlu dan harus mencoba. Belajar tentang seluk-beluk para blogger/ narablog. Bahkan kalau perlu sekelas mereka yang profesional. Karena itu, resolusiku tahun 2019 adalah menjadi blogger profesional. Tidak muluk-muluk, langkah pertama cukuplah senasib dengan bang Nodi (Adhi Nugroho) yang menumpuk banyak prestasi.

*tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog nodi 

4 Comments

Click to comment