-->

Belajar Ilmu Tafsir: Mengenal Metode Tafsir Bil Ma'tsur



Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam telah banyak dikaji oleh para cendekiawan muslim baik dari zaman klasik hingga modern. Babak ini yang kemudian menjadi salah satu elemen terpenting dalam sejarah peradaban Islam. Dimana dari diskursus al-Qur'an yang dilakukan para ulama melahirkan sebuah peradaban gemilang pada abad 8 Hijriyah. Diantara bentuk kajian al-Qur'an paling awal yang pernah dilakukan adalah diskursus tafsir. Bermula dari tafsir itulah muncul berbagai  mazhab pemikiran. Entah itu dalam diskursus fiqh, aqidah, bahasa dan lain sebagainya. Awal mula perkembangan tafsir sendiri sebenarnya telah ada semenjak zaman zaman Nabi Muhammad Saw, sahabat dan tabiin. Meskipun pada waktu itu diskursus tafsir al-Qur'an belum tersistematis seperti sekarang dan/ atau  belum dikodifikasi secara sempurna. Jikalau ada, tafsir-tafsir pada waktu itu hanya sepotong-potong. Disebar melalui metode oral (riwayat), dan tentunya tidak menyeluruh disetiap ayat al-Qur'an. Pada waktu itu pula, bentuk tafsir al-Qur'an menggunakan metode tafsir bil ma'tsur. Metode paling awal dalam sejarah ilmu tafsir. Artikel ini berusaha mengupas dan menjelaskan  definisi dan karakteristik metode tafsir bil ma'tsur.

Apa itu Tafsir Bil Ma'tsur?

Tafsir bil ma'tsur merujuk pada definisi dari Dr. Husain Zhahabi adalah penafsiran/penjelasan ayat al-Qur'an dengan menggunakan ayat al-Qur'an yang lain, atau dengan menggunakan riwayat yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw, Sahabat, dan Tabiin. Akan tetapi definisi diatas sebenarnya masih diperdebatkan. Sebab para ulama masih ikhtilaf ketika memasukkan tabiin dalam definisi tersebut. Hal ini dikarenakan sebagian ulama menganggap riwayat tafsir yang bersumber dari tabiin dikategorikan sebagai tafsir bil ra'yi. Bukan termasuk tafsir bil ma'tsur. Oleh karena itu Fahd al-Rumi mendefinisikan ulang tafsir bil ma'tsur dengan tafsir al-Qur'an menggunakan riwayat yang sahih (baik dari al-Qur'an sendiri maupun hadist), tidak menggunakan hasil ijtihadnya sendiri, dan tidak memasukkan penjelasan lainnya yang tidak memilkik sumber riwayat yang jelas. 


Sejarah Singkat Tafsir bil Ma'tsur

Husain Dzahabi menjelaskan dalam kitab al-tafsir wa al-Mufassiru bahwa tafsir bil ma'tsur bisa terbagi dalam dua priode: riwayat dan dirayat. Dalam priode riwayat tafsir bil ma'tsur telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Pada zaman itu, tafsir al-qur'an disampaikan langsung nabi kepada para sahabatnya. Penjelasan yang dipaparkan nabi tersebut adalah tafsir ayat al-Qur'an yang masih dimusykilkan maknanya. Setelah nabi wafat sahabat nabi kemudian mengajarkan apa yang diterima dari nabi kepada para tabiin. pada priode tabiin inilah muncul sebagian orang yang berinisiatif mengumpulkan riwayat-riwayat tafsir yang diterima dari sahabat nabi. Baik riwayat tafsir tersebut bersumber dari nabi maupun sahabat. 

Setelah priode tabiin setelah maka priode dirayat tafsir bil ma'tsur lahir. Priode ini juga dikenal dengan priode tadwin (pembukuan/kodifikasi tafsir). Sedangkan Orang pertama yang mengkodifikasi tafsir bil ma'tsur adalah Imam Malik bin Anas al-Asbahi yang dijuluki imam Dar Hijrah. Pada mulanya tafsir bil ma'tsur masih belum tersistematis seperti sekarang. Bahkan kitab tafsir masih belum disendirikan. Dengan artian tafsir masih dikumpulkan dengan kitab hadist.  Misalnya tafsir al-Qur'an masih menjadi salah satu bab dari kitab hadist Sahih Bukhori dan Muslim. Kemudian setelah itu buku tafsir terpisah dari hadist. Orang pertama yang menyendirikan tafsir al-Qur'an dari hadist adalah Ali bin Talhah bin Ibn Abbas. Setelah itu barulah para ulama menyendirikan kitab tafsir dari kitab-kitab lainnya. Seperti yang Ibn Jarir Thabari dengan kitab tafsirnya Jami'ul Bayan an Ta'wil Ayi al-Qur'an

Bentuk dan Sumber Tafsir bil Ma'tsur

Menurut Fahd al-Rumi bentuk dan sumber dari tafsir bil Ma'tsur ada 4 macam: Pertama, al-Qur'an. yaitu menafsirkan ayat al-Qur'an dengan ayat lainnya. Cara ini adalah metode paling valid menurut para ulama.  Semisal contoh penafsiran ayat 37, QS. Al-Baqarah:


فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Di ayat diatas kata "kalimaat" masih belum jelas maknya. Apakah Nabi Adam mendapatkan wahyu dari tuhan? ataukah Adam sedang memohon pada Allah Swt? Bagaimana bentuk kalimat yang diterima nabi Adam AS?. Oleh para ulama ayat yang masih belum jelas ini ditafsirkan menggunakan ayat lainnya. Yaitu ayat 23 dari QS. Al-A'raf:

 قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".

Dari ayat diatas akhirnya terjawab kemusyikilan ayat sebelumnya. Bahwa kalimat yang diberikan Allah Swt kepada nabi Adam adalah ucapan doa taubat yang kemudian dipanjatkan oleh nabi Adam dan Hawa.

Kedua, hadist nabi. Metode ini menempati peringkat kedua dalam tafsir bil ma'tsur. Yaitu dengan menafsirkan ayat al-Qur'an yang belum jelas pengertiannya menggunakan hadist. Dalam tinjauan ilmu tafsir hadist memiliki 4 korelasi (hubungan) dengan al-Qur'an: 1. Hadist menjelaskan/ menguraikan/ membatasi/ dan mengkhususkan hukum didalam al-Qur'an, 2. hadist menjelaskan makna lafadz didalam al-Qur'an, 3. hadist menjelaskan hukum yang tidak disebutkan didalam al-Qur'an, 4. hadist mengokohkan makna ayat al-Qur'an. Contoh dari metode kedua ini seperti menafsirkan ayat 82 QS. al-An'am:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat diatas memerintahkan untuk mengerjakan salat. Akan tetapi tidak disebutkan bagaiman tatacara, waktu dan macam-macam salat yang di fardlukan. Oleh karena itu para ulama menggunakan hadist nabi yang menjelaskan 3 hal diatas sebagai penafsir ayat diatas.

Ketiga, riwayat sahabat nabi. Yaitu menafsirkan ayat al-Qur'an menggunakan riwayat para sahabat nabi RA. Imam Ibn Taimiyah mengatakan: "Jika  engkau tidak menemukan tafsir al-Qur'an dari ayat al-Qur'an (yang lain) dan hadist nabi, maka engkau carilah di kalam para sahabat. Karena mereka lebih mengetahui maknanya (daripada orang setelahnya). Sebab mereka menyaksikan ayat al-Qur'an diturunkan, memiliki pemahaman yang sempurna, dan ilmu yang benar. Terutama para ulama/pembesar sahabat RA"

Keempat, riwayat Tabiin RA. Yakni menafsirkan al-Qur'an menggunakan riwayat dari para tabiin.  Hal ini karena para ulama salaf selalu merujuk pada riwayat mereka (tabiin) ketika tidak menemukan penjelasan ayat dari al-Qur'an, hadist, dan riwayat sahabat.  


Kedudukan Tafsir bil Ma'tsur

Secara umum metode tafsir bil ma'tsur adalah metode paling utama dalam menafsirkan al-Qur'an. Pendapat ini telah diiyakan oleh seluruh ulama. Sebab diantara alasannya adalah: 1).  yang digunakan sebagai tafsir adalah kalam Allah Swt sendiri, sedangkan Allah Swt adalah Dzat yang Maha Tahu, 2). yang dipakai menafsirkan ayat adalah hadist nabi, sedangkan nabi diutus untuk menjelaskan firman Allah Swt, 3). Menggunakan riwayat Sahabat nabi dan mereka turut menyaksikan turunnya al-Qur'an.


Meskipun kedudukan tafsir bil ma'tsur lebih utama dari metode tafsir lainnya, akan tetapi ada syarat utama utama yang perlu diperhatikan. Yakni, tafsir tersebut harus bersumber dari riwayat yang sahih (valid). Oleh karena itu, tafsir bil ma'tsur dibagi lagi menjadi 2 macam oleh para ulama: Pertama, tafsir yang sumber riwayatnya sahih (valid) dan diterima. Tafsir ini hukumnya wajib diikuti dan dipercaya. Kedua, tafsir bil ma'tsur yang sumber riwayatnya lemah atau palsu. Tafsir ini hukumnya tidak boleh (haram) diikuti dan dipelajari, kecuali sebagai wasilah untuk memberi tahu dan memberi tahu kesalahannya.


Kitab Tafsir bil Ma'tsur

Adapun kitab-kitab tafsir yang memakai model tafsir bil ma'tsur sebenarnya ada banyak sekali. Tetapi yang termasyhur adalah: 1). Jami'ul Bayan Fi Ta'wil Ayi al-Qur'an karya imam Ibn Jarir Thabari, 2). Bahrul Ulum karya imam Samarqandi, 3). Ma'alim al-Tanzil karya imam Baghawi, 4). al-Kasyfu wa al-Bayan An Tafsir al-Qur'an karya imam Tsa'alibi, 5). Al-Muharrar al-Wajiz Fi Tafsir al-Kitab al-Aziz karya Ibn Atiyah, 6). Tafsir al-Qur'an al-Karim karya imam Ibn Katsir, 7). Al-Jawahir al-Hisan Fi Tafsir al-Qur'an karya imam Tsa'alibi, dan 8). Al-Dur al-mantsur Fi Tafsir al-Ma'tsur karya imam Suyuti.

Itulah pengertian dan penjelasan tentang tafsir bil ma'tsur. Semoga bermanfaat dan Sampai berjumpa lagi di tulisan selanjutnya....

Sumber rujukan: al-Tafsir wa al-Mufassirun karya Husain Dzahabi, Mabahist fi Ushul al-Tafsir karya Fahd al-Rumi.

Click to comment