-->

Melacak Moderasi Islam dari Diskursus Al-Qur’an: Telaah Sikap Moderat Para Mufassir Era Klasik dan Modern

Al-Qur’an sebagai pesan-pesan Tuhan yang terdokumentasikan menyimpan berbagai tuntunan hidup bagi umat manusia. Dimana ayat-ayat Tuhan ini mengharuskan para pemeluknya menjadi orang-orang yang berkarakter moderat (QS: 2/143), mencintai perdamaian (QS: 4/128 ), menyayangi manusia (QS: 60/7 ), dan bersikap adil (QS: 49/9). Sebaliknya, dari segala aspek agama Islam juga menentang tindakan kekerasan (QS. ), pembunuhan  (QS. 5/32 ), sikap ekstremisme (QS. 4/171 ), dan segala kezaliman (QS. 42/42). Perinsip-perinsip ini kemudian menjadi salah satu bagian dari sejarah moderasi Islam.

Memaknai moderasi (wasathiyah) dalam agama Islam memang tidak bisa dilepaskan dari akar katanya yang berasal dari al-Qur’an.  Salah satu ayat yang sering digunakan sebagai landasan sikap moderasi terdapat dalam su rat al-Baqarah ayat 143: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia. Ibn Jarir Thabari menjelaskan maksud ayat ini dengan sikap moderat (tengah-tengah) dalam beragama, tidak ifrat maupun tafsit[1].

Dalam diskursus al-Qur’an moderasi juga terjadi dalam buku-buku tafsir. Para ulama baik di era klasik maupun kontemporer memiliki sejarah panjang dalam memoderasi pehaman umat Islam. Hal ini tidak mengherankan karena al-Qur’an rentan disalah gunakan untuk melegitimasi aliran pemikiran tertentu, baik pemikiran ekstrem kanan (tafrit) maupun kiri (tafrit). Disisi lain para ulama khususnya mufassirin memiliki beban tanggung jawab untuk menyampaikan pesan Tuhan dengan benar, yang salah satunya adalah bersikap moderat dalam beragama.

Moderasi di Era Klasik

Bukti paling jelas moderasi yang dilakukan para mufassir adalah munculnya Ittijah(corak) aqidah dan ilmu kalam dalam kitab-kitab tafsir. Gerakan moderasi awal yang dilakukan oleh para mufassir ini tidak bisa terlepas konteks sejarahnya. Tantangan-tantangan baru bermunculan. Beberapa aliran pemikiran ekstremis seperti Muktazilah, Khawarij, Murjiah, Qadariyah dan Jabariyah yang mulai berkembang menjadi titik awal gerakan moderasi pada saat itu. Disisi yang lain umat Islam mulai terjangkiti fanatisme mazhab yang berlebihan. Umat Islam pada saat itu mulai terpolarisasi kedalam berbagai kelompk mazhab. Tidak ayal, sebagian mufassir yang terjebak dalam polarisasi ini mempelintir ayat al-Qur’an demi keuntungan mazhab fiqihnya, atau bahkan menyerang mazhab fiqih yang berbeda dengan yang dianutnya.
Pada priode ini jugaterjadi pemalsuan tafsir-tafsir al-Qur’an (tafsir maudlu’). Dimana kelompok-kelompok tersebut menginterpretasikan al-Qur’an demi memperkuat mazhab pemikirannya masing-masing. Situasi ini mendapatkan reaksi keras dari para ulama, khususnya para mufassiryang sama-sama menekuni ayat-ayat Qur’an. Setidaknya terdapat 2 bentuk moderasi yang terjadi pada priode tafsir klasik: pertama, moderasi dalam metodologi teoritik. Moderasi tafsir dalam bentuk ini adalah upaya filterisasi interpretasi parsial-reduksionis terhadap al-Qu’an dengan melalui perumusan metodologi ilmu tafsir.

Para ulama menciptakan metodologi tafsir yang baku demi menghindari penafsiran yang subyektif,  tidak utuh atau bahkan salah kaprah seperti yang dilakukan kelompok tersebut. Diantara bentuk moderasi yang terjadi pada tataran metodologi teoritis adalah disusunnya prasyarat yang cukup ketat untuk menjadi seorang mufassir, penguasaan perangkat-perangkat primer seperti ilmu nahwu, shorrof, balaghah, nasihk wa mansukh, asbab nuzul dan lainnya. Pembakuan metodologi tafsir ini bagi penulis tidak bisa terlepas dari konteks sejarahnya. Dimana pada waktu itu telah marak penafsiran yang serampangan dari kelompok ekstremis. Terlebih kelompok tersebut memiliki cara dan metode yang berbeda ketika menafsirkan al-Qur’an. Sehingga sangat dimungkinkan perumusan metodologi tafsir dijadikan sebagai bentuk autokritik terhadap mereka.

Kedua, upaya moderasi didalam kitab-kitab tafsir itu sendiri. Para mufassir era klasik umumnya menyelipkan didalam tafsirnya bantahannya terhadap kelompok poros ekstremisme. Kritikan mereka biasanya dapat ditemukan dalam ayat-ayat mutasyabihat. Diantara ulama yang menggunakan cara ini dalam kitab tafsirnya adalah Ibn Jarir Thabari. Beliau misalnya menyelipkan bantahannya terhadap kelompok qadariyah dalam surat Fatihah. Ada juga Fakhruddin ar-Razi yang terbilang banyak memberikan kritikan terhadap kelompok ekstremis muktazilah dan para filsuf yunani. Tentu ada banyak lagi para mufassir yang memkai cara ini selain kedua tokoh diatas. Apalagi kitab tafsir era klasik memang terbiasa memakai pendekatan dari berbagai macam disiplin keilmuan. Sehingga sangat lumrah jika dibeberapa ayat mereka menyelipkan bantahannya terhadap kelompok poros ekstrem. 

Moderasi di Era Kontemporer

Adapun di era kontemporer, para mufassir menghadapi problem yang jauh berbeda dengan yang dihadapi mufassir era klasik. Tantangan-tantangan baru yang dihadapi mereka antara lain radikalisme agama, islamophobia, dan sekulerisme. Pada masa ini juga bermunculan teori-teori tafsir baru yang berbeda dengan era sebelumnya. Maka dengan begitu bentuk moderasi yang dilakukannya juga turut berbeda.

       Upaya moderasi yang dilakukan para mufassir kontemporer terbilang cukup efisien. Dimana mereka terbiasa menggunakan pendekatan tafsir tematik sebagai sarana memoderisasi pemikiran kelompok poros ekstrem. Tafsir tematik sendiri menurut Fahd ar-Rumi adalah tafsir al-Qur’an  yang tidak megikuti susunan ayatnya, akan tetapi dengan mengakomodasi ayat-ayat yang berhubungan dengan tema tertentu. Metode ini juga banyak diminati oleh para mufassir kontemporer. Menurut Mukhlis Hanafi hal ini dikarenakan tafsir tematik dapat menjawab dengan praktis segala problematika dan kebutuhan umat Islam modern yang serba komplek. Terlebih menurut Quraisy Syihab, tafsir tematik memberikan nuansa pada pembaca seakan dia sedang berbicara langsung dengan al-Qur’an.

Upaya moderasi tersebut misalnya seperti kitab “al-Qur’an Wa Qadlaya al-Insan” yang membahas kemanusiaan, Wasathiyah Fi al-Qur’an karya Ali Muhammad Shalabi, dan Dustur al-Akhlaq Fi al-Qur’an karya Muhammad Abdullah Darraz. Di Indonesia senditri upaya moderasi dalam bentuk tafsir tematik diawali oleh oleh Dr. Quraisy Syihab dengan bukunya “Wawasan al-Qur’an” yang salah satu babnya memuat topik jihad. Selain itu ada juga bukunya yang berjudul “Ayat-ayat Fitnah” untuk menepis tuduhan radikalisme dari sutradara Geert Wilderst. Ada juga buku “Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir tematik Islam Rahmatan Lil Alamin” karya Zuhairi Misrawi dan “Al-Qur’an Antara Tuduhan dan Realitas” karya Irja Nasrullah.

Budaya Tulis-Menulis dalam Moderasi al-Qur’an

Seperti yang telah dijelaskan diatas, moderasi bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Moderasi telah hadir mengiringi sejarah peradaban umat. Para mufassirsejak dulu hingga sekarang telah berupaya untuk menghadirkan wajah Islam yang ramah,  Islam yang tidak memihak sikap radikalisme maupun ekstremisme. Uniknya, upaya moderasi  yang dilakukan para ulama tafsir tidak melalui gerakan militer maupun pemerintahan. Mereka selalu menggunakan gerakan literasi  sebagai sarana untuk membendung sikap ekstremisme.

Bentuk moderasi tersebut ternyata cukup berhasil mengawal sikap keagamaan umat Islam. Ini bisa dilihat dari hilangnya pengaruh kelompok ekstremis dimasanya dan masih dominannya pengikut ahlu sunnah wal jamaah pada saat ini. Dalam upaya tersebut para mufassir sekaligus memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam perkembangan sejarah peradaban Islam. Karya-karya mereka yang masih eksis hingga saat ini juga masih digunakan sebagai sumber rujukan mayoritas umat Islam. Budaya tulis-menulis inilah yang sebenarnya perlu ditiru dan dilestarikan oleh para cendekiawan muslim saat ini. Terlebih bahasa tulisan memang lebih “abadi” dari bahasa lisan. Ia bisa hidup lebih lama dari penciptanya seperti yang terjadi pada karya-karya mereka.


Daftar Pustaka
Al-Qur’an Karim
Ibn Jarir Thabari, Jamiul Bayan An Ta’wil Ayil al-Qur’an, Juz 2, (Kairo: Maktabah Ibn Taimiyah, Cet. II, 2008)
Abdullah al-Hauriy, asbab ikhtilaf al-Mufassirin Fi Tafsir al-Qur’an, (Kairo: Dar Ulum, Cet. 1, 2001)
Muhammad Husain Zahabi, Al-Tafsir Wa al-Mufassirun, Jilid 1, (Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. Juz 1)
Jalaluddin Suyuthi, Al-Itqon Fi Ulum al-Qur’an, Jilid 6, (Mekkah: Mamlakah Saudi Arabiyah)
Fahd Abdurrahman Sulaiman al-Rumi, Buhust Fi Ushul al-Tafsir Wa Manahijuhu, Riyadl: Maktabah Taubah, Cet. 4, 1999)
Quraisy Syihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, (Jakarta: Mizan, 1996)
Mukhlis Muhammad Hanafi dkk, Wasathiyat al-Islam Wa Dauruha Fi Ta’ziz al-Ta’ayus al-Silmi Baina Afrad al-Mujtama’, (Jakarta: LPMA Kemenag, 2016)


Click to comment