-->

Reuni 212 dan Kesempatan Anies Baswedan




Ada yang unik dari cara Anies memberi sambutan pada hari minggu kemaren. Pasalnya, Anies dihadapan peserta reuni malah memamerkan janji-janji kampanyenya yang sudah ia realisasikan. Tentu tidak salah, toh sebagian peserta memang berasal dari wilayah DKI Jakarta. Tapi juga tidak tepat karena lebih 80% peserta reuni adalah masyarakat luar Jakarta. Mereka tidak mendapatkan manfaat dari kebijakan-kebijakan Anies Baswedan sebagai gubernur Jakarta. Kecuali jika Anies lupa, maka ucapan tersebut menjadi hal yang tidak terlalu menarik.

Apakah Anies lupa? Saya rasa tidak. Untuk acara sebesar ini mustahil Anies tidak menyiapkan orasinya secara matang. Dia adalah figur yang diidolakan kubu 212. berafiliasi politik dengan Prabowo. Terlebih dia juga adalah pemenang dalam kontestasi politik di Jakarta tahun kemarin.

Saya rasa apa yang dilakukan Anies adalah bentuk pertanggung jawabannya terhadap masyarakat yang mendukungnya di pilgub Jakarta. Seperti yang kita tahu,pilgub DKI Jakarta tidak melulu soal rakyat Jakarta. Ini berskala nasional. Tak ubahnya persija vs Selangor FA tahun ini. Acara lokal yang rasa nasional. Dimana masyarakat seluruh Indonesia turut ikut meramaikan acara paling "bergengsi" tersebut.

Keluar sebagai juara baru, Anies bisa dibilang banyak dibantu oleh para peserta didepannya. Tidak mengherankan jika Anies kemudian menceritakan keberhasilannya di reuni akbar tersebut.

Kesempatan Anies Baswedan

Jika ditelik secara moril memang wajar Anies "mengumbar" hasil kerjanya selama setahun. Terlebih peserta reuni adalah para pendukungnya di pilgub DKI. Mereka setidaknya pernah memposting, mengshare, atau berkomentar  di medsos untuk mendulang suara Anies. Anggap saja ke-pamer-an ini adalah bukti bahwa dia tidak mengkhianati pendukungnya.

Selain itu, reuni 212 adalah ajang besar. Jarang terjadi di Indonesia. Kesempatan berorasi dihadapan jutaan orang juga sangat langka. Reuni akbar 212 bisa menjadi momentum bagi Anies untuk memperkuat elektabilitasnya. Apalagi Anies sebelumnya pernah digadang-gadang menjadi cawapres Prabowo. Meski kemudian Anies menolak.

Jika Anies bisa menjaga pengaruhnya dikalangan peserta dan simpatisan aksi 212,bukan tidak mungkin dia bisa melangkahkan kakinya ke kursi capres 2024. Tentu masih jauh. Terlebih Anies juga bukan ketua partai. Dia tidak memiliki posisi tawar yang kuat dengan partai-partai lainnya. Tapi bukankah Jokowi juga bukan ketua partai?. Kekuatan Jokowi ada pada simpatisannya yang massif. Partai PDIP-lah yang bertugas menjual figur Jokowi kepada partai-partai koalisinya.

Bukan tidak mungkin partai gerinda melakukan hal yang sama terhadap Anies. Figur Anies juga sudah dikenal luas oleh masyarakat. Memiliki jumlah simpatisan yang tidak sedikit. Dengan sedikit kemujuran di tahun 2016, dia juga mendapatkan dukungan dari kalangan umat Islam. Dengan kata lain, Anies memiliki nilai jual yang tinggi, baik dikalangan politisi maupun masyarakat.

Jika reuni 212 adalah kesempatan Anies melebarkan sayapnya untuk kursi capres 2024,maka dia sudah selangkah didepan dari kandidat lainnya. Selain itu, Anies juga berpotensi mendapatkan warisan dari Prabowo. Para pendukungnya di tahun 2019. Hanya butuh sedikit konsistensi sampai pintu pilpres 2024 dibuka. Seperti yang dilakukannya ketika mengeksekusi janji-janji kampanyenya. 

Sebelum tulisan ini berakhir, ada kalimat dari Anies yang membuat saya penasaran. Kalimat yang saya tidak tahu motifnya. Apakah untuk kampanye dirinya sendiri atau bapak Prabowo?. Dihadapan peserta reuni Anies mengatakan "Semua itu dilakukan tanpa kekerasan, cukup dengan selembar kertas dan tanda tangan".

Click to comment