-->

Suara dari Sebuah Cerpen

Malam yang menangis ini diiringi dengan bacaan tahlil yang syahdu. Setiap orang mengisi setiap celah dari pelataran rumahku. Beberapa dari mereka menampakkan raut muka kesedihan. Entah karena apa, mungkin saja mereka masih memiliki pengalaman batin dengan mendiang istriku.

Ya,  Hari ini genap setahun dari kematian istriku. Aku mengundang tetangga, keluarga, kerabat untuk acara tahlilan sebagaimana adat kebiasaan warga. Istriku, meskipun ia tampak biasa pembawaannya dalam berdongen selalu bisa membuat anak-anak tertawa. Tawa giginya yang gingsul juga banyak disukai oleh kerabat dan keluargaku. Mendiang istriku, memang sangat terampil membuat setiap orang tertawa.

Sudah 5 tahun lamanya aku membangun hubungan keluarga dengannya. Aku mengenalnya semenjak kuliah, dia memang selalu ceria dan tertawa. Jarang sekali aku temukan air mata yang menetes di kerudungnya. Meskipun begitu, darahnya telah teridentifikasi kanker. Istriku terjangkit leukimia selama setahun. Sebelum hari kematiannya dia mengusap pipiku dengan tangan kirinya. Gerakan tangannya sudah lemah tidak berdaya. Sambil tersenyum, dia memberi isyarat untuk mendekatkan telingaku ke bibirnya.

Mas, aku mencintaimu..maafkan aku tidak bisa memberimu anak selama ini”. Aku mendengarnya dengan tangis. Setiap ucapannya yang mulai tertatih-tatih kutunggu hingga selesai. Setelah istriku menyelesaikan kalimatnya, kucium kening dan pipinya, kukecup tangan dan pundaknya, kuusap rambutnya yang tergerai indah. dengan menahan tangis kuajak dia tidur dan kukatakan “Semua akan baik-baik saja, sayang”. Sebuah kalimat yang aku sesalkan kemudian, karena dia tidak pernah bangun kembali.

***
Tepat sebelum azan isya’ mulai mengumandang ustadz yang memimpin tahlilan telah menyelesaikan doanya. Pembacaan tahlil kemudian ditutup dengan sajian sederhana yang aku pesan dari rumah makan disebelah rumah. Aku hanya duduk terdiam sambil sesekali mempersilahkan orang-orang menyantap makanan. Tidak berselang lama orang-orang sudah mulai beranjak dari tempat duduknya.

***
21.00 WIB
Suara jam dinding yang menunjukkan angka 10 menyuruhku untuk berpisah dengan lamunan, menegurku untuk kembali ke tempat tidur bersama sepi dan kesendirian. Dengan terpaksa kuayunkan langkah kaki ke sebuah ruangan yang dulunya begitu ramai dengan gelak tawa dari istriku. Ruangan itu kini begitu menyesakkan, begitu sunyi, dan kering. Hanya tersisa kenangan-kenangan indah yang membuatku betah untuk memasukinya.

Sebelum kubuka pintu kamar itu tak sengaja kulihat sebuah buku tergeletak diatas meja makan. Buku itu ternyata adalah kumpulan cerpen buatan istriku. Ya, istriku juga seorang penulis cerpen. Dia adalah cerpenis yang nyentrik, menyukai fantasi-fantasi nakal yang menjungkir balikkan pikiran. Ini adalah karya terakhirnya sebelum dia didiagnosis leukimia.

Aku ingat buku ini. Aku ingat istriku pernah memintaku untuk membacanya. Beberapa kali dia memintaku untuk mengoreksinya. Sayang buku itu tidak pernah kubaca hingga selesai. Kini aku yakin istriku meninggalkan kekecewaan sebelum dia meninggal. “Maafkan aku sayang...”. sebuah penyesalan yang kini tidak berguna. Kuambil buku itu dari meja, meski terlambat aku ingin menepati janjiku untuk membacanya.

“Wussssshhhh....”. tiba-tiba angin menyergap tubuhku, membangunkan bulu kudukku. Entah dari mana datangya, aku mencari-cari asal anginnya. Padahal jendela dan pintu sudah kututup dengan rapat. Akhirnya kuputuskan untuk segera ke kasur dengan membawa buku istriku. Setelah aku rebahkan tubuhku di kasur, segera kumulai melihat sampul depannya. Rupanya istriku memberi nama buku ini dengan “Teman Untukmu”. judul buku yang biasa-biasa saja bagi orang lain, tapi tidak dengan diriku. Menyayat hati. Dan menghancurkan sanubari.

Mas, baca buku apa??” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Aku sangat mengenal suara ini. Ini suara wanita yang sangat aku rindukan.

farah?? Farah?” panggilku. ini suara istriku. Aku menoleh kesan-kemari mencari asal suara itu.akhh..ini mustahil” akal sehatku berkata demikian. aku tahu istriku sudah tiada tapi perasaanku mengatakan dia berada disini. Pikiran dan kata hatiku kini saling bertabrakan..

“Mas, baca buku apa??” suara itu muncul kembali. Aku kembali menoleh mencari asal suara itu. Farah, kamu dimana?” tanyaku dengan suara lebih keras. Aku bangkit dari tempat tidur. Mencari sosok istriku yang telah meninggal. Aku yakin ini bukan halusinasi. Aku benar-benar mendengar suaranya.

“Mas, aku disini..! kau tidak akan menemukanku, aku berbicara melalui buku yang kau pegang” jawab suara itu.  kutatap dalam-dalam buku cerpen istriku yang kupegang. Aku terdiam begitu lama. Dengan pelan-pelan kuusap lembaran-lembaran buku itu seakan mengusap kulit halus nan putih milik istriku sendiri. Tidak terasa air mataku mulai menetes jatuh.

“Farah, aku merindukanmu...” kataku disertai isak tangis. Tak kuat kubendung lagi air mata ini. Kakiku mulai goyah. aku tersungkur jatuh. Aku bersandar ke samping ranjang dengan duduk bersila. 

hehehe...gombal banget, gak biasanya bicara seperti ini” kata istriku.

“tapi aku benar-benar merindukanmu, sayang..” jawabku sambil menggerakkan jari-jariku diatas lembaran buku itu. “teruss....?” Tanya istriku.

maksudmu sayang?” aku balik bertanya diselingi dengan isakan tangis. Kali ini suara istriku agak memanja meski Aku tak paham dengan pertanyaannya.

“Ya, kalau terus...nabrak!...mestinya gitu jawabnya. Mas, gak bisa diajak becanda...hehe” sahut istriku dengan sedikit tertawa. Aku begitu bahagia mendengar gelak tawanya kembali. Sudah lama aku tidak merasakan suasana ini. Suasana kamar yang selalu ramai dengan canda tawanya yang merdu. “Maaf, suamimu memang membosankan selama ini”sahutku kemudian.

“Oh ya? Wah..selama ini aku salah pilih suami dong? Hehe”.

“tapi aku tidak salah memilihmu sebagai istri” jawabku dengan sedikit tersenyum. Aku ingin merayunya kali ini. Meski aku tidak bisa melihat raut mukanya, Aku yakin wajahnya merah-merona kali ini. “tepatnya istri yang selalu melawak, haha....lawakku membosankan bukan?”

“tidak, justru aku menyukainya..aku merindukan setiap guyonan yang kau ucapkan” jawabku.

“ckckc...tapi mas gak tau cara menyukainya”

“lalu bagaimana?” tanyaku kembali.

“cara menyukai lawak dengan menertawakannya bukan dengan menangis”

ha...hah..ha...maafkan mas-mu yang tidak begitu ahli merespon setiap lawakan” kupaksakan diriku tertawa meski kedua mataku masih berkaca-kaca. Aku tidak ingin membuatnya kecewa kali ini. Tidak, aku tidak ingin membuatnya kecewa selama-lamanya. Kuusap kedua mataku yang telah basah sejak tadi. Aku ingin terlihat tegar dihadapannya. Setidaknya, dihadapan suara ini.

“udah lebaran ya?” Tanya istriku.

“maksudmu?” ucapku dengan nada keheranan.

“soalnya udah dua kali bilang maaf...tapi mas gak pake lahir batin..haha”

“maaf, aku agak telat menyadari guyonanmu” sekali lagi aku berusaha tertawa.

“tuh kan...minta maaf lagi. Sekali lagi dapet panci mas”, aku terdiam sejenak, aku mencari cara untuk menimpali obrolannya yang lucu. Sebagai lelaki aku memang agak pendiam. Aku jarang sekali memulai pembicaraan dengan siapapun. Istriku terkadang memarahiku karena aku hanya tersenyum setelah mendengar lawakannya.

“sayang..” akhirnya aku panggil namanya. Aku tidak menemukan cara untuk menimpali candaannya. Pikiranku buntu. Aku tidak tahu cara membuat istriku tertawa.

“iya mas?” jawab istriku.
“apakah kau akan selalu menemaniku seperti ini?” tanyaku.

Tiba-tiba lampu kamarku padam bersamaan dengan suara istriku yang tiba-tiba raib. “sayang...sayang..sayang!?” aku memanggilnya dengan keras. Tetapi istriku tidak kunjung menjawab. aku bangkit mencari sakelar berusaha untuk menghidupkan lampu kamarku kembali. Aku gerakkan kedua tanganku meraba-raba tembok kamarku, berusaha mencari sakelar lampu. Akhirnya kutemukan juga tombol sakelar itu, tapi lampu kamarku tidak juga menyala meski kutekan berkali-kali. mungkin ini konsleting listrik, aku bergegas berlari keluar rumah untuk menyalakan mcb. Setelah lampu mulai hidup kembali, aku segera berlari kedalam kamar. Kuambil dengan cepat buku cerpen istriku yang tergelatak di lantai.

“sayang...sayang...kamu dimana!?” teriakku. Tapi suara istriku tidak juga terdengar. Aku takut dia akan meninggalkanku untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin berpisah dengannya lagi. Sudah cukup kesedihan yang kurasakan selama setahun ini. Kubolak-balik halaman didalam buku itu, berusaha mencari suara istriku yang lenyap. “sayang, kumohon kembalilah..” jerit hatiku.

Tiba-tiba aku teringat dengan cerpen terakhir yang aku baca didalam buku itu. bukankah suara istriku muncul ketika aku membaca cerpen itu?. Kubuka dengan cepat halaman-halaman terakhir, mencari paragraf pertama dari cerpen terakhir istriku. Berharap suara istriku muncul kembali menyapaku.

Setelah kutemukan, kubaca paragraf demi paragraf tulisan dalam cerpen terakhirnya. Tiba-tiba aku terdiam. Kedua tanganku mulai lemas dan kaki mulai goyah dari pijakannya. Air mataku yang telah surut kemudian mulai jatuh kembali. Deras. Dan tubuhku tersungkur dengan keras. Kupeluk dengan erat kedua kakiku. Aku menjerit, berteriak memanggil nama istriku.

Ha...haha...haha....haha, Aku gila...aku sudah gila!!!”. Tanpa sadar aku tertawa sekeras-kerasnya bersamaan dengan air mataku yang mengucur dengan deras. Aku menjerit, aku berteriak memanggil nama istriku. Lagi dan lagi. “kau sejak tadi berhalusinasi” kata suara hatiku. Ya benar, aku sedang berhalusinasi. Istriku tidak benar-benar ada disini. Ini semua hanya imajinasiku sendiri. Semua percakapan antara aku dengan dia hanyalah isi cerita dari sebuah cerpen berjudul  Suara dari Sebuah Cerpen”.



1 Comments:

avatar

Saya seperti terbawa masuk kedalam ceritanya,

Click to comment