-->

ISLAM STYLE


“Islam adalah gaya hidup” begitulah statemen yang saya dengar dari seorang dosen di Gontor. Tidak seperti agama lain, Islam dari awal memang diperuntukkan untuk semua manusia dimuka bumi. Maka nilai-nilai Islam bersifat universal, ia menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Ketika nilai-nilai tersebut sejatinya telah universal sejak dari awal maka realitas Islam tidak mengenal batas wilayah atau negara. Ia dapat hidup dan  berkembang dimana saja. Tidak heran jika di India dimana agama hindu muncul, Islam berkembang pesat dengan jumlah umat sebanyak 177 juta jiwa.

Saya tidak ingin panjang lebar membahas keuniversalitas Islam. toh, saudara seiman juga sepakat dengan klaim ini. Yang menarik adalah bagaimana sebuah gaya hidup dapat memiliki nilai-nilai universal ?. Terlebih gaya hidup ini muncul pada 14 abad silam, dimana arus globalisasi dan informasi tidak seperti sekarang. Ketika anda pertama kali membuka mata di dunia, gaya hidup ini langsung bisa anda rasakan. Suara adzan ditelinga kanan dan iqamah ditelinga kiri adalah gaya hidup Islam yang pertama kali seorang muslim dengar. Tidak sampai disitu, ketika anak telah mencapai usia tamyiz orang tua berkewajiban mengajarkan dan membiasakan anaknya melaksanakan syariat secara benar. Puasa setengah hari dan ikut-ikutan sholat jumat mungkin sudah lumrah dirasakan oleh anak yang hidup ditengah keluarga islami. Itulah gaya hidup!

Sewaktu seorang muslim memasuki usia taklif maka dia akan benar-benar merasakan gaya hidup Islam. bagaimana dia bekerja, berinteraksi, bernegara, berbicara, diam atau ketika sendiri. “Bahkan buag air kecil juga ada aturannya” kata seorang penceramah. Tidak heran jika konsep sekulerisme sangat sulit diterima di negara-negara Islam. dikotomi antara agama dan politik, agama dan ilmu pengetahuan atau agama dan budaya bukan tradisi islam. islam adalah gaya hidup, dimana seluruh aspek kehidupan telah diatur oleh islam. berbeda dengan Islam, Barat mempunyai gaya hidup sendiri. Nilai-nilai liberty (kebebasan), sekuler (dikotomi antara agama dan politik, budaya dan ilmu) dan relativisme sejarah terakumulasi secara serampangan di gaya hidup mereka (Naquib Alattas, Islam and Seculerism).

Di barat kebenaran bermadzhab pragmatisme. Sesuatu dianggap benar jika mempunyai nilai guna selebihnya adalah kesalahan. Konsep ini akhirnya menimbulkan relativisme karena tidak ada yang benar-benar mempunyai nilai guna yang sama. Sikap relativisme melahirkan liberalisme, kebebasan tanpa syarat. Karena jika kebenaran bermacam-macam maka kebenaran bebas dipilih atau diabaikan. Ketika kebenaran bersifat liberty dan relatif tidak diragukan konsep moral juga demikian. Suatu moral dianggap baik tergantung dari sudut dan dimensi mana moral itu timbul, tidak ada standar baku tentang kebaikan. Di Eropa abad 16 wanita berbikini sangat tidak bermoral tapi lain cerita jika disampaikan di abad 21. Apalagi jika masyarakat tersebut adalah kaum nudist.

            Maka gaya hidup Barat sebenarnya bukanlah sesuatu yang bisa disebut universal. Sejatinya nila-nilai yang disebutkan diatas tidak akan bisa dan tidak akan pernah diterima oleh masyarakat Timur. Moral, kebaikan, kebajikan bagi mereka adalah sesuatu yang dinamis, berubah-rubah, tidak pasti dan sangat relatif. Bagaimana sesuatu yang selalu berubah bisa dianggap universal ? bahkan, bagaimana relativitas moral dianggap gaya hidup?, gaya hidup harus baku dan konsisten agar bisa diterima secara universal. Meskipun begitu, gaya hidup barat ternyata mulai berkembang di negara-negara Timur, khususnya Islam. tapi ini bukan disebabkan keuniversalitasnya karena Barat seperti yang disebutkan diatas tidak memiliki nilai universal yang dapat diterima oleh orang Timur.

            Dampak Globalisasi-lah yang menjadi kuda troya dalam kasus ini. Bangsa-bangsa timur terpesona dengan hadiah “Boneka Kuda” yang sejatinya tersembunyi prajurit-prajurit libety, pasukan sekuler, dan pemanah relativimisme. Para ahli sebelumnya memang telah memprediksi fenomena ini. Dampak globalisasi bukan sekedar modernitas yang memberangus identitas bangsa Timur yang santun dan arif, ia juga mempercepat transfer nilai-nilai hidup yang berasal dari negara-negara maju (negara Barat). Sebaliknya bagi negara-negara berkembang yang didominasi oleh bangsa Timur dipaksa menerima nilai-nilai dan budaya Barat setelah mereka menerima globalisasi.

            

Click to comment