Tuesday, February 19, 2019

Hadist kelompok yang selamat (pandangan kritis al-Bothi mengenai isu takfirisme)





(...dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu...) hadist
Seminggu yang lalu saya menonton kajian Dr. Said Ramadhan al-Bothi di youtube. Kebetulan temanya mengenai hadist tersebut. Ada yang unik didalam penjelasannya. Penjelasan yang tidak biasa tapi sangat sarat dengan alisis ilmiah, pendapat ulama salaf dan ilmu-ilmu hadist. Bisa dikatakan penulis telah jatuh hati pada pemikirannya untuk yang kesekian kali.

Sebenarnya saya masih sedikit takut membuat tulisan ini. Isu takfirisme sendiri sangat sensitif untuk dibicarakan. Bahkan tidak jarang menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara masyarakat. Belum lagi isu SARA yang masih hangat dimedia kita belum lama ini. Meskipun sangat frontal, pembahasan takfir tidak semestinya dihindari apalagi untuk dijauhi. Bukankah suatu penyakit harusnya diobati, bukan dibiarkan menular.

Didalam video berdurasi 7 menit, al-Bothi memaparkan ada cara lain dalam memaknai kalimat hadist diatas. Jika melihat kalimat sebelumya, redaksi hadist tersebut berbunyi (“umat yahudi terpecah menjadi 71 golongan, umat Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan...). kalimat pertama dan kedua menggunakan kata “yahud” (yahudi) dan “nashara” (Nasrani). Sedangkan kalimat terkahir menggunakan kata “ummati” (umatku). Jika kalimat pertama dan kedua menyebutkan nama umat agama-agama samawi sebelum islam. Semestinya kalimat terkahir menggunakan kata “umat muslim”, agar sama dengan kalimat pertama dan kedua. Jika kita aplikasikan, kalimat terakhir semestinya  berbunyi ”dan umat islam akan terpecah...”.

Menurut Al-Bothi terdapat hikmah yang tersembunyi didalam sabda nabi yang memakai kalimat “dan umatku..”, bukan dengan kalimat “dan umat islam...”. Muhammad SAW sebagai seorang nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia (tidak seperti nabi-nabi sebelumnya yang hanya diutus untuk suatu kaum tertentu), maka  umat Nabi Muhammad sendiri mecangkup seluruh manusia dimuka bumi. Hal ini selaras dengan friman Allah: dan kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Saba’: 28)

Selain itu kalimat “seluruhnya masuk neraka” secara tekstual bermakna kekal dineraka, dengan kata lain 72 golongan tersebut telah murtad. Jika kita memaknai hadist diatas secara eksplisit, maka mayoritas umat islam telah keluar dari islam. Hal ini bertentangan dengan hadist yang menyebutkan bahwa umat nabi adalah penghuni surga terbanyak. Bahkan makna ini juga kontradiksi dengan maqasid syari’ah, dimana salah satunya adalah untuk mengcounter tuduh-menuduh/ kafir-mengkafirkan antara umat islam sendiri. Menurutnya, harus ada cara lain memaknai hadist diatas, tentunya agar tidak tidak terjadi kontradiksi dengan nash-nash yang lain.

Al-Bothi membagi umat Nabi Muhammad menjadi dua kelompok: pertama: kelompok apriatif (ummat ijabi), kedua: kelompok apostasi (ummat ingkari). Kelompok pertama adalah kelompok yang mengimani tuhan Allah (muslim). Sedangkan kelompok kedua adalah mereka yang belum mempercayai Allah dan rasul-Nya, - kita menyebutnya non-muslim- seperti kristen,Yahudi, Hindu, Budha dan semacamnya. Maka terpecahnya umat Muhammad menjadi 73 golongan bermakna terbagi-baginya umat muhammad kedalam beberapa keyakinan beragama seperti islam, kristen, budha, hindu dan lain-lain.

Hadist-hadist lain juga menguatkan pendapat ini. Nabi muhammad sendiri pernah berkata: “barangsiapa yang mengatakan tiada tuhan selain Allah diharamkanlah neraka baginya”, didalam riwayat lain ditambah “dan aku adalah utusan Allah”. Hadist ini menjadi barometer keislaman seseorang. Seseorang dikatakan kafir jika mereka mengingkari 2 kalimat syahadat. Sebaliknya, selama masih tersimpan didalam jiwanya keimanan tentang Allah dan Nabi Muhammad ia masih belum keluar dari islam. bahkan Nabi sendiri pernah murka ketika seorang sahabat membunuh musuh yang mengucapkan syahadat.

Dari pemaparannya yang saya sebutkan diatas bisa kita simpulkan semua firqah-firqah islam -selagi masih menyakini Allah dan Nabi Muhammad- masih didalam koridor islam, pengikutnya adalah muslim. Mereka belum keluar dari islam. sedangkan maksud dari 73 golongan itu adalah umat nabi, baik yang beriman ataupun masih dalam kekufuran. Dengan kata lain makna “kecuali satu” didalam hadist diatas adalah islam. sedangkan golongan yang berjumlah 72 adalah golongan diluar islam.

Adapun terpecahnya umat islam sendiri menjadi beberapa aliran pemikiran semisal Muktazilah, Khawarij, Wahabi, Syiah, Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya masih dalam batas yang bisa ditolerir didalam agama. dengan kata lain masih belum dianggap keluar/murtad dari ajaran islam. Al-bothi bahkan mengelompokkan mereka sebagai firqah najiyah (kelompok yang selamat), meskipun beliau sendiri tidak memungkiri jika firqah-firqah tersebut telah melenceng dari ajaran-ajaran islam (sesat).
  
Perlu juga diketahui bahwa sesat menurut Al-bothi tidak sama dengan kufur. Ada batas-batas tertentu yang membedakan keduanya. Keduanya berada ditingkat yang berbeda. Selama suatu aliran masih menyakini Allah dan Nabi Muhammad, ia masih dianggap islam, pengikutnya tak ubahnya seperti pelaku dosa besar yang bisa mendapatkan syafaat.

Thursday, January 31, 2019

Berkontemplasi Gara-Gara Lagu "Ibu" Dari Jasmine Elektrik



Malam Kamis, tanggal 30 Januari 2019. Malam itu seperti malam-malam biasanya. Ada angin, suara jangkrik sekaligus ada dengkuran seorang sahabat. Malam itu jarum jam telah menunjuk angka 11, Suasanya kelam seperti pekatnya kopi yang sedang kuseruput. Malam itu, aku tertegun karena sebuah lagu yang dibawakan band indie dari Yogyakarta. Tertegun karena liriknya mengantarkanku pada sosok seorang pahlawan, ibu. Tak terasa, bayangan masa lalu pun menghampiri. Mengingat kembali detik demi detik perjuangannya. Aku tiba-tiba berkontemplasi.

Jasmine Elektrik adalah band independen asal Yogyakarta yang baru-baru ini meluncurkan lagu terbarunya berjudul IBU.

Ibuku tak ubahnya ibu kebanyakan orang. Ibu yang aktifitasnya memasak, mencuci pakaian, dan sesekali menonton tivi ketika senggang. Jika subuh datang, beliau selalu diantarkan ayah ke masjid Agung Sumenep. solat dan mengaji bersama teman-temannya. Selebihnya, beliau adalah wanita luar biasa. Wanita yang tanpa lelah menunggu kesuksesan anak-anaknya. Usianya yang sudah menginjak 60 tahun mulai mengoleksi beberapa kerutan. Meskipun begitu, wajahnya masih menyisakan kecantikan khas kota dingin Malang. Aku tahu ibuku cantik dimasanya.
Kau ajari ku Berjalan
Membimbingku perlahan
Hingga tercapai segala yang kucita-citakan

Pepatah arab mengatakan: "Al-Um Madrasah al-Ula" (Ibu adalah madrasah pertama bagi anak). Begitu juga, ibuku ibarat kampus. Bukan kampus biasa, tapi lebih mentereng. Pendidikan yang beliau ajarkan lebih dari materi yang dipaparkan seorang doktor, bahkan tidak kalah dari sekelas profesor. Karena beliau mengajarkan apa yang tidak diajarkan mereka, warna kehidupan. Nilai-nilai kehidupan yang beliau contohkan dan ucapkan kepadaku. Dari caraku bertutur kata sampai bagaimana aku berdoa. Dalam pendidikannya juga ada tangis, ada marah, dan panjatan doa. Semua yang beliau lalui yang telah membuat aku menjadi sekarang ini. Hal pertama yang aku ingat dari pesan beliau: "Nak, jadi orang itu jangan tanggung, Jadilah orang baik atau orang buruk! jangan setengah-setengah". Oleh karena itu, sedari kecil ibu sangat ketat mendidikku. Terlebih jika urusan salat. Aku tahu ini adalah caranya agar aku tidak jadi orang setengah-setengah. Terlebih jika urusan solat. Beliau paling menekankan tahajud dan dluha. Meski hanya lewat telepon.


Selama ku dibesarkan
Selama ku dipelukan
Begitu banyak dosa yang telah aku lakukan
Entah, berapa kali aku menyakiti perasaannya. Tak terhitung, juga tak terukur. Seperti kasih sayangnya padaku. Pernah suatu ketika, aku membuatnya marah besar. Sebab aku mengambil uang tanpa izin darinya. Selanjutnya, beliau mengajakku berbincang-bincang diatas kasur. "Yik, sini, ummi mau bicara sebentar". Rupanya dia ingin menanyakan uang yang tadi kucuri di laci meja. Aku menghampirinya, ketika itu luapan marahnya sudah tidak membekas lagi di wajahnya. Meski aku paham dosaku masih tersemat di lubuk hatinya. Beliau lagi-lagi berpesan: "Nak, Jangan jadi orang tanggung!". Lagi-lagi, 5 kata itu yang keluar. Aku tahu beliau tidak mengucapkan itu agar aku bertindak lebih jahat lagi. Toh, tidak ada ibu yang menginginkan anaknya menjadi pencuri. 
Buat ibu terluka
Buat ibu kecewa
Mohon ku diingatkan
Mohon ku dimaafkan
Mungkin tidak ada anak yang tidak pernah melukai hati ibunya. Sama sepertiku, yang sering kali membuatnya kecewa. Meski begitu, harapannya padaku tidak pernah terputus. Setiap kali ibu marah, yang pertama kali beliau lakukan adalah mengajakku berbicara. Menanyakan alasanku dan sebab-musabbabnya. Seterusnya beliau akan berkata: "Nak, jangan jadi orang tanggung!". Begitulah, ibuku mungkin tidak ingin anaknya menjadi orang biasa. Dia menginginkanku menjadi orang luar biasa. Sebab itu, dia kemudian memasukkanku ke pesantren setelah lulus SD sampai hari. Impian Ibu adalah bagaimana aku bisa ilmu agama kepadanya. Tak jarang, petuah-petuah ulama sering beliau sisipkan ketika berbicara denganku. Sebut saja misalnya, K.H Bakhiet, K.H Maemon Zubair, Buya Yahya, Gus Mus dan lain sebagainya. Sepertinya beliau menginginkanku berwawasan seperti mereka. Meski sampai hari ini, aku tak juga dapat mewujudkan mimpinya.   
Ku kayuh perahu
Menuju pulau citaku
Diiringi doa nasehat bijakmu ibu
Ku arungi hidup berbekal ilmu darimu
Kasih sayangmu ibu
Tak terbantahkan waktu
Hari ini umurku telah menginjak 26 tahun. Tak terasa aku telah menghabiskan 11 tahun dari masa usiaku di pesantren. Menjadi anak perantauan sedari kecil kadang membuatku rindu pada rupa-wajahnya, pada masakannya, pada obrolannya. Meski begitu, ada rasa malu jika aku kembali ke rumah tahun ini. Belum bisa mewujudkan cita-citanya. Menjadi orang yang tak setengah-setengah. Oleh karena itu, hingga hari ini aku terus memperjuangkan impian ibu. Berusaha menjadi orang yang pantas mengajarkannya ilmu agama. Aku pikir, menjadi ahli agama juga termasuk salah satu kriteria beliau, "orang yang tak setengah-setengah". 

Malam itu aku tutup kontemplasiku dengan menyeruput kopi terakhir.





Wednesday, January 30, 2019

Fantasiku Bersama ASUS Zenfone Max M2



Menjadi seorang mahasiswa memang tidak bisa terlepas dari namanya smartphone. Barang satu ini sudah menjadi kebutuhan "primer" ketika melangkahkan kaki di bangku kuliah. Bagaimana tidak, hampir setiap informasi dan aktivitas didalam kampus dibagikan melalui benda bernama smartphone ini. Mulai dari janjian bersama rekan kelas, organisasi, sampai dengan konsultasi dosen. Sebagai mahasiswa saya juga merasakan akan pentingnya sebuah smartphone yang mampu menunjang bangku perkuliahan. Dipertengahan masa kuliah semester 5, tepatnya tahun 2017, smartphone yang saya pegang sangat biasa. Atau bisa dibilang ecek-ecek. Itupun dari merk yang tidak terlalu terkenal dan memiliki citra buruk di kalangan mahasiswa. Bisa nebak?, Saya gak akan kasih tahu merk dan jenisnya apa.

Masa demi masa berlalu, smartphone ini pun mulai uzur. Sudah tak mampu lagi mengimbangi kesibukanku di perkuliahan. Sering kali lag, layar yang tidak responsif dan baterai yang mati-hidup, kadang mati kadang hidup. Jasadnya pun banyak mendapatkan luka. Dari goresan silet di layar dibelakang sampai pecah dilayar LCD-nya. Akhirnya 2018 lalu, terbersit untuk memiliki hape baru (meskipun tidak kesampaian hingga hari ini. Tapi tak apalah, car-cari dulu, uang belakangan. Siapa tahu ada rezeki bisa ganti handphone di tahun 2019.

Kriteria pertama ketika saya mencari smartphone adalah brand. Harus produk Asus. Selain karena sudah pas dihati. Asus Zenfone dan saya sempat memiliki pengalaman mengesankan selama 4 tahun lebih. Asus juga sudah terkenal dengan performanya yang sangar dan penampilannya yang ciamik. Sangat cocok menemani perjuanganku di kampus. Beruntung aku mendapatkan kabar baik, Asus baru-baru ini telah mengeluarkan serial handphone terbarunya, Zenfone Max M2. Ini hati langsung terpaut. Bukan tanpa alasan, ada hal-hal menarik di Zenfone Max M2:



1. Tampilan yang Menarik dan Puas ditangan

Tampilan adalah kriteria pertama sebelum melihat software/hardwarenya. Saya termasuk orang yang pilah-pilih jika memilih handphone. Terkadang, meskipun memiliki perform bagus tapi tampilan jelek, akan saya hapus dari list rekomendasi. Nah, anehnya sewaktu melihat tampilan Asus Zenfone Max 2 hati langsung terpaut. Alasannya karena Asus Zenfone Max 2 memiliki tampilan yang menawan. Size body yang sangat pas, dengan ukuran bodynya sendiri 158 x 76 x7,7 mm. Membuatnya sangat puas ketika digenggaman tangan. Belum lagi dengan lebar LCD-nya yang mencapai 6, 3 inc dengan aspek rasio 19:9 . Menjadikan layarnya full touchscreen, menyelimuti sisi depannya. Memanjakan kedua mata setiap kali melihatnya. Selain itu, body belakangnya yang menggunakan bahan sejenis logam membuatnya terasa sangat kokoh. Untuk warnanya, ASUS menyediakan 2 varian warna: hitam dan biru.

2. Prosesor yang Ngebut

Hal kedua yang membuat hati bernafsu membelinya adalah prosesornya yang terbilang kencang. Sebagai informasi Asus Zenfone Max M2 menggunakan Qualcomm Snapdragon 632. Chipset Ini merupakan upgrade lanjutan dari Qualcomm Snapdragon 625 yang sudah lawas.  SoC (System on Chip) ini mampu mendukung sensor singel camera 24-megapixel dan dual camera 13-megapixel. Oleh sebab itu, Asus Zenfone Max M2 berani menggunakan camera belakang ganda, 13-megapixel dengan bukaan lensa f/1.8, ditambah lagi dengan 2-megapixel untuk depthsensor. Sudah bisa ditebak, bagaimana kualitas gambar yang akan dihasilkannya bukan? Pasti sangat detail. Untuk bagian depan, camera dengan 8-megapixel dengan bukaan f/2.0, LED, dan HDR, menjadi senjata mematikan ketika berselfie-ria bersama para sahabat. 

Oke, kita kembali lagi ke  pembahasan prosesor. Qualcomm Snapdragon 632 ini juga mendukung resolusi layar sampai Full HD+. Dengan begitu Asus Zenfone Max M2 bisa dipastikan memiliki resolusi HD+ didalamnya. Setelah saya cek memang benar. Resolusi layarnya sangat tajam sekaligus cerah. Kelebihan lainnya dari chip ini juga masyhur dengan  daya tahannya serta tidak panas ketika lama dipakai. Menarik bukan?

3. Baterai yang Tahan Lama

Sebagai mahasiswa yang aktif di organisasi, lowbatreyy selalu menjadi kendala ketika sedang menjalani aktifitas. Oleh karena itu, smartphone dengan daya yang besar menjadi prasyarat ketiga saya membeli hape. Nah, Asus Zenfone Max M2 ternyata memiliki baterai dengan daya besar sampai 4.000 mAh. Belum lagi dengan dukungan dari Qualcomm Snapdragon 632 yang meminimalisir penggunaan daya. Sehingga tak ayal, smartphone ini semakin ingin kubeli. 

4. Software yang Terbaru

Software yang digunakan Asus Zenfone Max M2 adalah versi terbaru dari android. Apalagi kalau bukan  system operasi Pure Android Oreo 8.0. Sisytem ini semenjak diperkenalkannya pada Agustus 2017 silam banyak mendapat respon positif dari pemakai. 




5. Diperuntukkan Bagi Para Gamers

Membeli handphone tapi RAM rendah, bagaikan beli nasi pakai lauktanpa minum. Keselek. Karena hal kedua yang menjadi aktifitas saya adalah bermain game FPS. Kalian pasti tahu kan game FPS di android biasanya memakan RAM yang banyak. Hebatnya, sejak diluncurkannya Desember lalu, Asus Zenfone Max M2 memang menyasar kalangan gamers mainstream. Dengan optimalisasi RAM sampai 3/4 GB. Bisa bayangkan setenang apa kalian jika bermain game dengan RAM segitu?. Sedangkan untuk penyimpanan memori, Asus memberikan 2 pilihan: 32 dan 64 GB. Jadi semakin tenang deh.

6. harga yang Terjangkau di Saku Mahasiswa

Oke, mungkin kalian pada bertanya-tanya: Berapa sih harganya Asus Zenfone Max M2?. Selidik punya selidik, ternyata Hanphone ini memiliki 2 varian harga: Pertama, dengan kapasitas RAM 3 GB dan memori internal 32 GB, dijual dengan harga 2,300,000. Kedua, dengan kapasitas RAM 4 GB dan memori internal 64 GB, dibandrol dengan harga 2,700,000. Dengan perform yang sangat mumpuni, harga segitu terbilang murah bukan?. 

Fantasiku Bersama Asus Zenfone Max M2

Setelah mememeriksa semuanya, tanpa sadar akupun membayangkan bagaimana jika telah mendapatkannya kemudian. Tidak perlu lagi ada uring-uringan karena ngelag waktu bermain, tenang ketika menyimpan data di handphone, tidak khawatir ketika menginstall aplikasi, dan yang pasti bisa tampil kece didepan teman-teman.


Spesifikasi Asus Zenfone Max M2
1
Ukuran Layar
LCD 6,3 inci, 720x 1520 piksel, aspek rasio 19:9
2
Dimensi Fisik
158 x 76 x 7,7 mm
3
Bobot
160 gram
4
Prosesor
Snapdragon 636 Octa-core (4x1.8 GHz Kryo 250 Gold & 4x1.8 GHz Kryo 250 Silver), GPU Adreno 506
5
RAM
3/4 GB
6
Penyimpanan
32/64 GB + Micro SD hingga 512
7
Kamera Belakang
Dual Kamera: 13 megapiksel dengan bukaan lensa f/1.8, fitur PDAF, LED Flash, HDR + 8 megapiksel dengan bukaan layar f/2.0, LED Flash, HDR
8
kamera Depan
8 megapiksel dengan bukaan f/2.0, LED Flash, HDR
9
baterai
4.000 mAh
10
Konektor
micro-USB, Jack audio 3,5 mm
11
GPS
A-GPS, GLONASS, BDS
12
Kartu SIM
Dual nano-SIM
13
Konektivitas Wireless
LTE, Wi-fi 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.2, Wi-fi Direct
14
Biometrik
Pemindai sidik jari, Pengenal wajah
15
Sistem Operasi
Android Oreo 8.1, Polos tanpa tambahan custom UI
16
Pilihan Warna
Black/Blue
17
Harga
Rp 2,299,999 (3 GB/32 GB) Rp 2,699,999 (4 GB/64 GB)

Thursday, January 24, 2019

Sebuah "Hidayah" Menjadi Seorang Blogger



Sunyi dan bunyi. Diiringi angin kencang yang berhembus dari utara. Kala itu hujan tengah mengguyur bumi Ponorogo dengan membabi buta. Seakan mengabarkan bahwa alam ini masih bernyawa seperti biasanya. Kemudian, kesunyian ini tiba-tiba berakhir dengan dilantunkannya suara iqamah dari toa masjid kampus. Menandakan bahwa aktifitas kampus Darussalam Gontor masih bergejolak seperti biasanya. Ditengah-tengah kejadian alam itu seorang pria sedang menatap layar laptopnya dengan sangat khusyuk.

Cerita diatas bukanlah awal perkenalanku dengan blog. Itu hanyalah cerita ketika aku menulis di blog hari ini.  

Awal aku mengenal blog memang biasa saja. Tidak ada insiden yang dramatis, apa lagi menyimpan misteri. Bermula dari kekhawatiran akan nasib tulisan-tulisanku yang "berserakan". Entah itu dilaptop, kertas, buku tulis, flash disk, atau bahkan di salah satu folder yang disimpan di laptop milik sahabat. Oh ya maaf, pengertian kalimat "tulisan-tulisanku" disini bukanlah seperti yang kalian pikirkan. Bukan sejenis opini, cerita traveling, makanan, tips dan trik yang biasanya diposting oleh para blogger dan jurnalis. Hanya beberapa tugas kuliah biasa. Itupun tak terlalu menarik untuk disebut biasa. Maklum kala itu aku memang masih belum terbiasa menulis. Alias terpaksa dan dipaksa menulis. Karena hanya dengan menulis (tugas kuliah) aku bisa "terbebas" dari amukan nilai D dari dosen.

Kekhawatiran itu sampai pada puncaknya di musim penghujan. Persisnya di bulan November tahun 2017. Ketika aku terinsprirasi dengan blog milik adik kandungku, Ayis. Dia memang sudah sejak lama memiliki blog. Sewaktu aku lihat blog miliknya aku terkagum. Dia rupanya sangat pandai mempercantik blognya. Cukup keren. Tampilan templatenya tidak kalah dengan website-website besar. Meskipun dia dapatkan secara gratis di internet. Dari situ aku juga baru tahu, bahwa blog ternyata  bisa dipermak dengan sangat apik. Hanya bermodalkan internet, skill coding, dan imajinasi blogger. Terkesan dengan blog miliknya akhirnya aku putuskan untuk memiliki blog yang sama seperti dia. Sekalian juga untuk menyimpan tugas-tugas kuliah. Setidaknya agar "mereka" abadi di dunia maya.

Blogger Setengah Hati

Memiliki blog tak membuatku menjadi aktif menulis. Tidak juga giat menyimpan semua tugas kuliahku. Seperti hari-hari biasanya, aku cukup mengerjakan tugas, selesai dan kirim ke email dosen. Selesai. Menyimpannya di blog pribadi malah cukup merepotkan. Ups, aku memang anak yang agak benci dengan kesibukan. Menyibukkan diri bagiku karena orang-orang mulai bosan dengan ketenangan. Sedangkan aku malah merasa nyaman dengan ketenangan. Apalagi jika kesunyian ikut mengahampiri. Akhirnya, jika ditelisik seluruh aktivitasku kalau tidak di kampus ya di asrama. Di kampus aku mengikuti kuliah, presentasi, dan sesekali makan di kantin. Sedangkan di asrama pekerjaanku menonton film, main PES, dan game online. Blog milikku menjadi usang, tidak terawat atau bisa dibilang mati suri.



Situasi ini berlanjut sampai kuliahku memasuki tahun berikutnya. Awal semester 5. Waktu itu, aku sedang berbaring sambil memainkan hape. Membuka instagram lebih tepatnya. Tidak sengaja aku menemukan informasi lomba blog yang diadakan kemendikbud. Tiba-tiba aku teringat dengan nasib blog yang aku buat. Bagaimana nasibnya sekarang?. Apakah ia masih "bernyawa"?. Tidak, tidak, maksudku apakah ia masih aktif?, ataukah sudah diblokir oleh google? (pikirku kala itu). Karena rasa penasaran, aku mencoba membukanya lewat laptop. Duar, ternyata ia masih aktif. Aku tersenyum. Saking herannya aku habiskan beberapa menit membaca semua tulisanku disitu. Takut-takut ada yang hilang karena ditinggal pergi. Sejurus kemudian sesuatu hinggap di isi kepala. Bukan mukjizat bukan pula ilham. Hanya sebuah bisikan hati untuk mengikuti lomba blog itu. Entah mengapa pada waktu ada ide yang tidak biasa dan aku putuskan mengikutinya.

Awal Perubahan

Pertemuan kedua adalah pertemuan yang PHP. Karena setelah itu aku tetap tidak berubah. Tidak juga menyimpan tulisan-tulisanku disana. Apalagi mencoba-coba menulis. Kecuali ketika lomba kemendibud yang dulu. Hari demi hari, malam berganti malam sampai bulan berikutnya menyapa. Teringat dengan lomba yang aku ikuti. Lalu dihinggapi rasa Penasaran, aku putuskan mencari tahu siapa pemenangnya. Meski aku  tidak yakin salah satunya bernama Mohammad Auliyaur Rosyid. Ternyata fakta mengatakan sebaliknya. Aku terpilih sebagai salah satu dari 32 nominator. Namaku tercantum di pemberitahuan. Horass!

Tapi tunggu dulu, rasa "bangga" ini tidak bertahan lama. Karena ia kandas ditengah jalan. Rupanya, 31 nomine yang disebut bersamaku adalah kesatria dalam dunia tulis-menulis. Mereka sangat profesional. Sedangkan aku amatiran. Menggeluti dunia blog juga bukan sebulan-dua bulan. Bertahun-tahun. Ibaratnya aku seperti anak SD yang baru belajar membaca dan mereka telah membaca berpuluh-puluh kitab filsafat. Tapi sudahlah, menjadi nomine juga adalah sebuah prestasi. Menjadi pemenang lomba masih terlalu jauh dari jangkauan. Yang terpenting aku bisa jalan-jalan ke Jakarta dengan uang dari kemendikbud. Menghadiri acara apresiasi keluarga sekaligus pengumuman pemenang disana.

Tiba di Jakarta untuk pertama kalinya. Bahkan pertama kalinya menaiki pesawat menyusuri angkasa. Sungguh adalah sebuah keberuntungan yang hakiki.

Singkat cerita, aku berada di Jakarta selama dua hari tiga malam. Banyak wawasan yang aku dapatkan disana. Bertemu para jurnalis yang mengikuti lomba berita dan feature, para guru dan dosen yang mengikuti lomba opini, sekaligus 31 blogger-blogger expert dari seluruh Indonesia. Belum lagi dengan para presentator handal yang mengulas dunia literasi dan pendidikan keluarga. Dari semua itu yang paling menggembirakan adalah tulisanku terpilih sebagai juara harapan. Mengherankan bukan?. Seorang blogger pemula berhasil menyisihkan nomine lain yang umumnya lebih mahir dariku. Apalagi ini adalah lomba pertama yang aku ikuti.

Langkah Baru

Menjadi seorang juarawan dalam lomba blog adalah langkah baru dalam hidup. Cita-cita baru tiba-tiba muncul. Menjadi jurnalis atau paling tidak seorang penulis buku. Dulu aku menganggapnya itu mustahil. Bukan karena tidak mampu. Tapi lebih karena tidak mau. Menjalani hidup dengan berjam-jam didepan laptop/komputer dan dengan kesepuluh jari yang meraba-raba keyword bukanlah bagian dari gayaku. Membosankan dan sangat menjengkelkan. Sudah cukup aku menyentuhnya karena titah dari sang dosen. Selebihnya biarkan ia jadi bioskop kecilku.


Tapi semua telah berubah, ada langkah baru yang ingin aku buat. Sebuah langkah perubahan untuk menjadi seorang penulis. Terinspirasi oleh para nomine yang aku kenal di Jakarta. Seperti ibu Ina Tanaya, mas Bagus Sajiwo, ibu Rieka dan semuanya. Mereka semua adalah inspirasiku untuk terus berkarya dalam tulisan. Ibu Tanaya sendiri adalah wanita berumur sekitar 60 tahun. Telah lama menggeluti dunia blog. Prestasi dan penghargaannya pun telah banyak yang ia peroleh. Sedangkan mas Bagus, ia adalah jurnalis di media Radar Jember. Belum lama ini ia bisa melancong ke Praha, gara-gara tulisannya. Seperti kata seorang sahabat: Modal kata-kata jalan kemana-kemana!.

Menjadi Blogger Profesional

Menapaki dunia tulis-menulis ternyata masih susah bagiku. Aku tidak tahu akan memulainya darimana. Akhirnya mencari tahu kesana-kemari adalah langkah awal yang aku lakukan. Pertama kali, aku mencari tahu bagaimana para nomine itu bisa menulis bukunya. Beruntung aku temukan caranya di blog milik pak Lutvi Avianto. Peraih juara I dalam lomba blog kemendikbud. Rupanya dia menciptakan buku dari menghimpun tulisan di blog miliknya. Mungkin bapak ini terinspirasi dari kata pepatah: Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Aku pikir ini cukup efisien. Hanya dengan aktif ngeblog bimsalabim jadilah buku.


Aku putuskan menjadi blogger. Tidak tanggung-tanggung, impianku harus seperti Raditya Dika. Komika yang memulai karirnya dari blog. Ini sekaligus menjadi tantangan. Bisakah aku senasib dengan Radit?. Aku perlu dan harus mencoba. Belajar tentang seluk-beluk para blogger/ narablog. Bahkan kalau perlu sekelas mereka yang profesional. Karena itu, resolusiku tahun 2019 adalah menjadi blogger profesional. Tidak muluk-muluk, langkah pertama cukuplah senasib dengan bang Nodi (Adhi Nugroho) yang menumpuk banyak prestasi.

*tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog nodi 

Friday, January 18, 2019

Integrasi Budaya Indonesia dan Sains Modern




perjuanganku lebih muda karena mengusir penjajah, perjalanmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” (Soekarno). 

Kira-kira begitulah kata bijak yang pernah dilontarkan presiden pertama Indonesia. Jika kita hayati kalimat pertama sebenarnya adalah sejarah dan yang kedua adalah ramalan. Benar, ramalan bisa salah atau mungkin benar. Ia bukan ayat-ayat Tuhan yang dianggap benar. Tapi perlu diketahui disetiap ramalan disitu tersembunyi kecemasan dan harapan. Kecemasan terhadap  runtuhnya nilai-nilai yang telah diperjuangkan dan harapan bahwa nilai itu akan selalu ada, begitu kira-kira yang penulis pahami.

Sebuah peradaban besar pasti memiliki karakteristik dari nilai-nilai yang diturunkan pada generasi selanjutnya. Nilai-nilai itu dalam perjalanannya akan berevolusi menjadi sebuah konsep-konsep, dan kemudian menjadi sebuah paradigma (worldview) bagi masyarakat (Hamid Fahmy, 2013). Jika Indonesia menginginkan menjadi sebuah bangsa yang besar maka nilai-nilai kebudayaan seharusnya selalu ditransfer secara kontinu. Sayangnya penulis tidak bisa melihat hal itu, apalagi ditengah arus globalisasi informasi pada hari ini. Sebagian besar pemuda Indonesia seakan kehilangan nilai yang seharusnya dipegangnya. Mereka akhirnya tidak ubahnya seperti pemuda dari peradaban lain. Dalam artian nilai-nilai yang mereka pegang bukan berasal dari kultur Indonesia.

Jika kita menginginkan Indonesia menjadi sebuah peradaban besar maka nilai-nilai tersebut harus dikonsepkan dengan matang. Selain itu pemuda sebagai pewaris juga harus ikut berkontribusi dalam perumusan dan pengembangnya. Karena nilai-nilai itu yang nantinya akan selalu dibawa oleh masyarakat. Nilai-nilai itu kemudian akan menjadi karakteristik dari corak pandangan yang akan dibawanya sampai ada nilai-nilai baru yang menggantikannya (Mas'oed, 1990), entah itu didalam kehidupan sosialnya, akademisinya maupun ketika sedang melakukan sebuah penelitian.

Dalam sejarah manusia, peradaban besar selalu dimulai dengan kemajuan didalam ilmu pengetahuannya. Kemajuan ilmu pengetahuan ini diperoleh dengan take and give, yakni sebuah peradaban memperoleh pengetahuannya dari peradaban lain yang lebih besar (Hamid Fahmy, 2006). Akan tetap seperti kata Syed Naquib Alattas ilmu pengetahuan tidak bebas dari nilai (Naquib, 2001). Maka setiap peradaban selalu berusaha meyaring pengetahuan dari peradaban lain. No Science has ever been integrated into any civilization without some of it also being rejected (Syed Hossen Nasr).

Oleh karena itu mengintegrasikan antara nilai-nilai dari kultur/budaya Indonesia dengan sains modern perlu dilakukan. Sebagaimana yang kita tahu, setiap pengetahuan modern selalu dimulai dengan penelitian. Dan setiap penelitian sebagaimana menurut para ahli haruslah objektif. Tetapi perlu juga diketahui bahwa penelitian ilmiah berangkat dari asumsi-asumsi dasar yang diyakini oleh penelitinya. Biasanya asumsi-asumsi dasar seorang peneliti adalah pandangan para peneliti tentang realitas dunia ini. Asumsi-asumsi dasar ini adalah komplikasi dari nilai-nilai yang dipegang oleh peneliti. sehingga nilai yang telah disebutkan diatas juga turut mempengaruhi jalan penelitian.

Jika nilai-nilai ini selalu dibawa oleh para cendekiwan, ilmuan maupun peneliti di Indonesia tentu akan sangat baik. Tapi sayangnya realita yang terjadi adalah sebaliknya. Terkadang para cendekiawan tersebut terseret pada pandangan dunia (worldview) bangsa lain. Misalnya sebagian cendekiawan tersebut memiliki worldview yang pro sekulerisasi, atau bahkan berbau agnostic dan ateistik. Oleh karena itu diperlukan suatu wacana nasional dimana pokok pembahasannya adalah mengintegrasikan nilai-nilai Indonesia dengan sains modern.

Bagi penulis, langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh para pemuda/I untuk mensukseskan grand discourse ini adalah: Pertama, dengan cara merumuskan nilai-nilai asli yang dimiliki Indonesia, baik diambil dari pemikiran-pemikiran pendiri bangsa atau yang terkandung dalam kebudayaan kita yang majemuk. Output dari proses ini adalah membangun paradigma yang kuat, kompherensif dan diterima oleh semua rakyat Indonesia. Sehingga dengan paradigma ini menjadi batu pijakan para intelektual muda negeri dalam proses pengembangan keilmuannya. Kedua, berkolaborasi dengan pemerintah untuk memberikan sosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat, baik kepada masyarakat intelektual atau bawah. Ketiga, mencoba untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut kedalam sains. Hal ini tentu dilakukan oleh para ilmuan dan intelektual yang memiliki otoritas dibidangnya masing-masing. Oleh karena itu para pemuda diharapkan menjadi memiliki otoritas dalam bidang yang ditekuninya masing-masing. Pengintegrasian ini tidak hanya berkutat didalam wilayah permukaan, tetapi juga harus masuk didalam paradigma (asumsi dasar) dalam semua ilmu pengetahuan. Misalnya, para ilmuan selain menganalisa, merumuskan dan memakai suatu teori yang bisa mengintegrasikan nilai-nilai Indonesia dan suatu bidang sains yang dikuasainya, ia juga dituntut untuk mengkonsepkan dan memakai suatu  paradigma (worldview) yang khas Indonesia. Sehingga cendekiawan, ilmuan dan peneliti selanjutnya bisa memakai worldview dan teori-teori yang dibuat oleh pendahulunya.

Keempat, Teori-teori yang tercipta dari hasil pengintegrasian ini tentunya harus terbuka untuk difalsifikasi. Karena ciri dari ilmu pengetahuan memang tidak terbatas (unlimited) dan terus berkembang sedangkan suatu teori terbatas pada suatu masa dan konteks dimana peneliti ini menemukannya sampai peneliti lain mengoreksinya. Dan hasil yang harus dicapai dari proses integrasi ini adalah harapan munculnya suatu corak dalam ilmu pengetahuan yang khas Indonesia. Atau bisa saja lahirnya suatu sains dari Rahim Indonesia. Tentu ini memerlukan waktu yang sangat panjang, bahkan bisa jadi berabad-abad. Dan bisa jadi mendapat penolakan dari berbagai elemen, khususnya dalam kancah internasional. Akan tetapi sebagaimana kata Gus Dur: “Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, asal yakin di jalan yang benar”.